h1

Agar Tak Sekadar Menjadi Ide Belaka

February 18, 2008

egop2007big.jpg

Dari sekian banyak buku yang berbicara mengenai “entrepreneurship”, jarang sekali yang buku tersebut disusun oleh pelaku bisnisnya sendiri. Sehingga lebih cenderung menceritakan “teori” dibanding faktanya. Walaupun ada, pengarangnya kebanyakan adalah pelaku bisnis diluar sana yang dirasa berbeda dari sisi kultur maupun situasinya. Sebut saja buku karangan Donald Trump yang menceritakan cara “How to become like Him”. Ah, memang Pak Donald itu orang yang sukses. Tapi untuk apa itu semua kalau harus ditukar dengan kehidupan. Ada satu hal yang saya rasa kurang berkenan disini. Mungkin dia adalah CEO yang hebat. Tapi jangan bicara “hebat” bila faktanya memimpin keluarga saja tidak becus. Jadi ada baiknya bila pengarangnya adalah dari satu rumpun dengan kultur dan situasi yang sama. Namun di Indonesia ini sangat jarang terdapat buku yang menceritakan “Jalan Hidup Menjadi Sukses dengan menjadi Pengusaha” versi tanah air dengan pelaku yang juga orang Indonesia. Walaupun ada, lebih banyak dari sisi lika-liku politik. Mungkin hal ini disebabkan karena para pengusaha Indonesia tidak banyak punya waktu khusus untuk menulis dan berbagi kisah, pengalaman, dan gagasannya dalam sebuah buku. Tapi beruntung, saya menemukan beberapa buku bagus yang salah satunya adalah karangan Sony Sugema. Buku seharga tidak lebih dari 25.000 rupiah saja namun memiliki nilai ilmu jutaan kali daripada label harganya. Buku yang menceritakan “susah payah”-nya seorang manusia untuk meniti kesuksesan financial. Dan kebetulan si pengarang adalah salah satu pengusaha juga.

Pengusaha yang namanya identik dengan lembaga bimbingan belajar ini berhasil meluncurkan buku saku yang berusaha menyakinkan semua orang untuk menghidupkan potensi “Pemimpin Usaha” yang sukses. Sony menegaskan, tidak diperlukan bakat dalam hal ini. Dan menurut saya lebih identik dengan pemikiran para pelaku pedagang cina glodok dimana yang dibutuhkan hanyalah keinginan dan tekad untuk memulai mimpi. Dan berani membayar “harganya”. Dengan kata lain, berani bermain dengan resiko. Membuang jauh “kemapanan situasi aman” untuk sementara demi mewujudkan mimpi. Mirip halnya seperti Jun Matsumoto dalam resensi film BAMBINO yang pernah saya tuliskan.

Bicara bisnis, sony secara tegas berkata bukan hanya bicara tentang angka, analisa pasar, prediksi keuangan kompleks, maupun analisa-analisa management canggih lainnya. Juga tidak berbicara mengenai rumitnya administrasi atas izin usaha, pajak, kurangnya koneksi, networking atau kolusi. Bukan pula perhitungan mengenai hari baik, feng-sui atau perhitungan2 semacam itu. Bukan itu “Roh” berbisnis. Bicara bisnis artinya kita bicara MENTAL! mental yang berani untuk rugi, mental yang berani untuk mewujudkan mimpi dengan modal dari “0”, berani untuk jatuh bangun, bekerja keras, belajar tanpa batas dan bahkan berani membuang waktu luang untuk diri sendiri dan keluarga untuk beberapa saat. Saya jadi teringat bagai orang tua dan mertua saya yang memulai bisnis tanpa memiliki sistem pembukuan kompleks nan canggih. Tapi mampu menghafal every single stock unit cost that they have in their mind!. Bagaimana mereka memulai usahanya dengan semuanya yang serba.. “0” alias Zero. Baik itu modal, maupun keahlian.

Dalam buku ini diawali dengan pemaparan siapa itu seorang “Sony Sugema MBA”, dan bagaimana dia mengawali bisnisnya yang kini telah tersebar di seluruh Indonesia. Dimana dia bercerita akan satu hal yang membuat dia mengawali seluruh sukses bisnisnya, yaitu mimpi. Mimpi yang bukan berupa wangsit atau hasil kita ziarah2 ke berbagai macam kuburan atau semacamnya, tetapi mimpi “anak-anak” yang berkeinginan untuk mencapai cita-cita tertentu. Menurutnya, kemampuan kita untuk bermimpi menunjukkan seberapa besar keinginan kita untuk membuat masa depan yang lebih baik dari sekarang. Ini mengingatkan saya pada suatu quote sir T. Alfa Edison sang penemu lampu “Bukankah dunia ini pun dibangun di atas mimpi-mimpi?”

Setelah mimpi dipunya, jangan berhenti sampai disitu. Kita perlu melanjutkannya dengan kerja keras. Siap bekerja keras tidak terbatas hanya pada fisik, tapi juga mental. Kita harus siap menderita, tabah menghadapi kegagalan, dan sabar menunggu kesuksesan. Dalam banyak hal, bekerja keras pada intinya berpaku pada kekokohan tembok tekad dan komitmen. Dimana keberanian menjadi pondasi dasarnya.

Kombinasi kisah nyata pemaparan filosofi si penulis dengan contoh nyata yang dialaminya selama perjalanannya membangun bisnisnya menjadikan buku ini layak untuk mengisi koleksi saya. Selain mudah dicerna, simple dan ringkas, buku ini pun tidak banyak menggunakan istilah2 ekonomi canggih yang kadang membuat kita harus membuka-buka kamus.

Dan setelah anda membaca buku ini, jangan heran kalau di relung hati anda tiba-tiba bertanya kepada anda “Have you got any gut to change your life?”

One comment

  1. tfs ya ….berminat juga membeli buku ini tapi saya jauh nih….



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: