h1

BAMBINO

September 28, 2007

Bambinoep05-002

Kekuatan tekad, fokus dan keberanian.. hanyalah sepersekian dari sekian banyak faktor yang mampu membawa seseorang ke tangga kesuksesan di hidupnya. Suatu motivasi terdalam yang terkadang kita tidak sadari. Dan seringkali muncul pada saat kita mengingat kenangan dan hasrat kita… di masa kecil.

BAMBINO, Dibintangi oleh Jun Matsumoto yang berperan sebagai Ban Shogo. Dan melihat akting Ban-kun kali ini yang bermain sebagai “karyawan restaurant”, membuat geli hati saya yang masih merasakan sangat janggal. Karena image-nya sebagai anak konglomerat seorang Domyoji Tsukasa (hana yori dango) masih melekat di kepala. Bagaimana arogan dan childishnya karakter jun di seri tersebut sebagai salah satu anak orang-orang terkaya di Jepang dengan segala fasilitas serta kehormatan yang berlimpah. Bertolak belakang dengan karakter jun di seri Bambino yang lebih mencerminkan “ordinary people” dengan segala keterbatasan sebagai orang biasa. Tapi satu hal, itu lah kekuatan akting seorang Jun Matsumoto.

Sekilas saya tidak merasa ini adalah film yang lebih menarik dari Hana Yori Dango, tapi setelah menonton beberapa episode saya merasa pesan yang ingin disampaikan oleh film ini sangat lah bagus untuk dihayati. Cerita yang menunjukkan bahwa keteguhan hati seseorang dalam menghadapi rintangan, keinginan keras untuk maju, serta fokus dalam menggapai cita-cita, akhirnya selalu membawa hasil yang manis di kemudian hari dan selalu menarik untuk disimak. Sebuah gambaran bagaimana suasana dan budaya kerja di Jepang yang terkenal keras dalam ethos bekerjanya. Namun meskipun ditengah etos kerja 8 jam sehari dan 6 hari seminggu, tapi di film ini juga ditekankan bahwa hidup bukanlah semata untuk sebuah roti. What the purpose of your life? what do you want in your life? it’s not about the result, but its about its process that makes you smile at the end.

Bagi Ban-kun, memasak adalah segalanya. Dan baginya, menjadi koki restaurant telah menjadi suatu tujuan hidup. Jauh melenceng dari tujuan seharusnya yang dia tempuh melalui jalur pendidikan formalnya sebagai seorang mahasiswa. Perjalan karir Ban-kun yang awalnya adalah seorang mahasiswa, dimulai dari sebuah restaurant Italia kecil tempatnya berkerja di Hakata. Hingga pada suatu hari, pemilik restaurant tersebut menawarkan program kerja magang disalah satu restaurant teman lamanya yaitu “Baccanale”, yang merupakan salah restaurant terkenal di sekitar daerah roppongi, Tokyo. Rasa percaya diri yang sedikit berlebihan akibat pujian ditempat lamanya, membuat Ban-kun menjadi bahan olok-olokan di baccanale pada sepanjang awal episode. Ketika kenyataan ternyata berbeda dengan testimoni Ban-Kun didepan para pegawai Baccanale, bahwa dia dapat memasak semua masakan. Mulai dari appetizer hingga dessert. Yang ternyata, dia pun harus mengakui bahwa masih banyak yang harus dipelajari, dan masih panjang jalan yang harus dilalui untuk menjadi seorang Chef professional.

Bambinoep04-004Seperti kata pepatah, “if you wanna get something, you must sacrife something.. thats how this world works!”.. ini yang di coba diutarakan dalam BAMBINO. Sebuah alur pertarungan emosional. Ada masa dimana ban-kun harus menghadapi pilihan berat antara mengejar karier atau kehidupan bersama ke kasihnya. Memilih antara mengejar karir di baccanale atau tetap berdua dengan Eri sang kekasih untuk mewujudkan cita-cita memiliki restaurant sendiri. Berdua untuk memiliki kehidupan normal layaknya sepasang kekasih. Menonton film, bercanda tawa dan berdua menikmati Indahnya Fukuoka di sore hari. Selepas dari masa magang, Ban-kun kembali ke fukoaka. Namun hatinya seperti tidak pernah lepas dari baccanale. Dan demi meraih cita2nya, akhirnya Ban memutuskan untuk mengorbankan kehidupannya yang sekarang dan memilih untuk kembali ke baccanale sekali lagi. Bekerja 6 hari seminggu, 14 jam sehari. Kembali ke suasan kerja yang jangankan bercanda-tawa, untuk membalas SMS saja pun sudah tidak ada waktu. Sesampainya disana, ternyata baccanale masih mau menerima ban-kun. Tapi bukan sebagai juru masak, namun sebagai penerima tamu. Perasaan sedih tak keruan menghinggapi Ban-kun. Tak terbayang betapa besar pengorbanan yang sudah dia lakukan untuk menjadi seorang chef di baccanale, dan bukan untuk hanya sebagai penerima tamu. Tak terbayangkan, apa jadinya bila kita sendiri mengalami hal tersebut. Dimana saat sebuah harapan diadu dengan kenyataan. Dimana saat sebuah tekad sedang di uji, apakah sekeras intan ataukah hanya sebuah arang.

Bambinoep01-009 Bambinoep01-003 Bambinoep03-009 Bambinoep02-007

Tidak perlu rasanya kita mengungkap keseluruhan isi filmnya disini. Namun, pesan yang ingin disampaikan cukup kuat. Bahwa butuh lebih dari sekedar keahlian untuk menjadi professional. Butuh banyak keringat dan terkadang tetesan darah untuk mencapai sesuatu. Butuh kebesaran hati dengan mengorbankan satu demi mendapatkan yang lain. Dan butuh kekuatan tekad yang amat sangat untuk menggapai impian. Tekad yang muncul demi meraih impian masa kecil yang mampu menumbukan tekad keras laksana baja. Dan di film ini, semua pesan tersebut tersaji dengan manis secara sederhana.

Melihat film ini, saya punya perspektif yang berbeda. Bahwa film ini patut juga ditonton terlebih oleh para orang tua. Bahwa jangan pernah meremehkan cita-cita seorang anak walaupun mungkin pada awalnya terlihat rendah di mata kita sebagai orang-tua. Bahwa lebih baik kita turut mendukung anak kita dalam mengasah kemampuan daripada menutupi kekurangan. Karena mungkin itu adalah sumber kekuatan terbesar pada nantinya.Karena pada kenyataannya, Orang tua mana di Indonesia yang akan memuji anaknya bila memiliki cita2 hanya sebagai seorang koki restaurant? atau menjadi pelari cepat? Pemain harpa? Yang lalu biasanya akan di arahkan untuk menjadi karyawan saja pada kebanyakannya. Jauh berbeda dengan apa yang pengarang film ini coba katakan,  “walaupun hanya memiliki mimpi sebagai perias bonsai, tapi kalau kita ahlinya dan kita menyenanginya, uang adalah nomer kesekian. uang akan mengikuti pada akhirnya… Tapi jangan sampai kehidupan kita jauh tertinggal dari bentuk yang kita inginkan sesungguhnya…” 

Dan disini pun saya menyadari, bahwa ada point-point penting sebagai masukan berguna dalam peran saya sebagai mentor kepada anak saya nanti. Bagaimana mencoba menghargai dan mendukung impiannya nanti. Menanamkan nilai bahwa seseorang tidak dinilai sesederhana hanya dari penampilan atau uangnya. Namun kualitas seorang manusia sesungguhnya dinilai dari kualitas karakter orang tersebut, karakter yang terbentuk dari kebiasaan2 kecil, sehingga menjelma menjadi kekuatan mental dalam menghadapi situasi sentimentil serta keterbatasan dan pada akhirnya karakter tersebut yang akan menjadi penentu bagi nasib kita.

Sehingga butuh lebih dari sekedar kekuatan jiwa serta enegy yang konstan untuk menghadapi segala rintangan, tapi juga diperlukan suatu “pengertian” terhadap orang sekitar. Dari sini, perpaduan dan kerja sama antara dukungan orang orang tua serta guru yang tegas kepada anak, yang mampu mengajarkan bagaimana caranya bertahan di tepi jurang kesulitan, dengan sedikit bersikap ingnorance terhadap masalah dan menepiskan segala keterbatasan yang ada dengan berusaha, berusaha dan berusaha, saya kira pembuat film ini secara tidak sadar sudah mencoba untuk mengetuk hati kita juga bahwa pada awalnya dunia ini pun semua awalnya dimulai dari mimpi. Semuanya tergantung pada kekuatan tekad kita.

 

 

5 comments

  1. ehm..mw donlot filmnya dmana y kk??ksi tw dunk, kayakny tu film bgs!!!thx


  2. ceritanya sangat bagus,menarik(bagi ku)


  3. Oishi ditonton.. tapi tmtnya garing uy.. Tw pelem yg bgs lgi g?


  4. dimana sih nyari filmnya aku pengen banget belinya?
    kasi tau doNG ??please??kirim mai ke aku ya?sekali lagu makasi ya?????


  5. filmnya baguss kak…. tp benerr endingnya lucu…
    ada film yg laen gak kak yg diperanin Matsumoto?



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: