h1

PULANG KAMPUNG, 24 OKTOBER 2006.

November 6, 2006

Akhirnya tiba juga hari kemenangan, dan tidak lupa kami sekeluarga mengucapkan Selamat hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf lahir dan bathin. Dihari yang fitri ini seakan seluruh umat muslim melupakan sejenak permasalahan kehidupan yang tengah mereka alami. Dan turut tenggelam dalam sukacita kemenangan setelah berjuang melawan hawa nafsu sebulan penuh. Sulitnya situasi ekonomi, dalamnya duka maupun lebarnya jurang kesengsaraan, seakan tidak memudarkan semangat mereka untuk dapat tetap menyambut dan merayakan datang Iedul Fitri dihari ini. Sama seperti keluarga-keluarga perantau lainnya. kamipun juga melakukan tradisi “Pulang Kampung” sekeluarga di hari H-1 ini. Tepatnya Senin besok, tanggal 23 Oktober 2006. Pulang kampung lagi setelah 20 tahunan lebih tidak pulang kampung.

Perjalanan pulang kampung kami ternyata sangatlah lancar. Tidak mengalami kemacetan ataupun kendala apapun selama diperjalanan. Sehingga Jakarta-Pekalongan yang normalnya ditempuh selama 6 jam dengan naik kereta tanpa diyana ternyata mampu ditempuh selama 7 jam hanya dengan jalan darat. Tampak sepanjang jalur PANTURA hanya beberapa kendaraan roda empat dan motor saja sepanjang perjalan. Mungkin karena sebagian orang sudah banyak yang merayakan lebaran di hari senin ini. Panasnya udara pantura ternyata lebih panas dihari idul fitri ini. Seakan mentari pun ingin menunjukkan bahwa dirinya pun tengah merayakan hari kemenangan. Kami pun akhirnya sampai di Desa Sragi pada jam satu siang. Udara panas diluar membuat kami langsung mencari air minum untuk melepas dahaga. Tapi namanya juga dikampung, ditambah kemarau berkepanjangan, sehingga yang ada hanyalah air tanah yang dimasak. Mau tidak mau terpaksa kita meminum air yang rasanya payau itu daripada kami kehausan. Nalar saya langsung berbicara, adalah prioritas utama untuk langsung mencari air Aqua gallon daripada besok-besoknya mengalami kembung-kembung karena air yang payau.

 

Lebaran

Esoknya Selasa tanggal 24 Oktober 2006, Tibalah akhirnya hari raya idul fitri. Saya bangun jam 5 pagi untuk mandi dan siap-siap pergi ke mesjid untuk sholat. Suasana idul fitri ditahun ini jauh dari bayangan saya yang akan ramai. Karena ternyata banyak sekali umat islam disini yang tidak melakukan sholat ied, sangat disayangkan. Malah menurut pendapat saya lebih ramai dijakarta daripada disni. Masjid dirumah saya pada hari raya idul fitri pasti membludak dipenuhi oleh para jamaah hingga harus menutup jalanan. Disini, bisa dibilang satu masjid dan halamannya sudah cukup untuk menampung seluruh jamaah yang hendak sholat idul fitri. Tidak habis pikir, untuk sholat yang setahun sekali saja kenapa tidak mau. Tapi yah semua berpulang kepada pahaman masing-masing juga. Saat saya hendak berangkat sholat, terlihat saudara-saudara disini ternyata masih tergeletak di halaman rumah akibat mabuk Anggur Orang-Tua malamnya. Astagfirullah. Kadang geram hati ini melihatnya. Kalau sudah tidak mendapat dunia, yah kerjalah akherat. Rugi sekali kalau sudah miskin tapi tidak taat beribadah! Tidak mendapat dunia maupun akherat. Tapi begitulah suasana islam disini. Seperti hal nya harta, iman pun tidak dapat kekal bila hanya sifatnya diturunkan, semuanya tetap harus dicari dan dijaga oleh hati masing-masing. Bagaimanapun juga iman yang dicari akan lebih meresap dari pada yang diturunkan (islam karena orang tua juga islam tapi tidak mau memahami apa itu islam). Dari keluarga embah pun hanya beberapa saja akhirnya yang sholat idul fitri ini, yang mayoritas adalah wanita dan lakinya hanya saya dan 2 cucu laki embah saya. Serta Kiko adik ipar saya yang berusia 5 tahun yang sudah bangun dari pagi dini hari saking semangatnya untuk sholat idul fitri. ironis memang.

 

   

Sorenya dengan tidak sabar langsung saya berkelana keliling desa untuk melihat suasan sekitar. Suasana Desa kediaman Embah kami di Desa Sragimasih tergolong asri walaupun ditengah keringnya musim kemarau. Di halaman depan dan kebun di samping rumah masih banyak pohon-pohon mangga, pisang, nangka, jambu dan pepaya yang tumbuh liar dengan buahnya yang siap dipetik. Pemandangan yang sangat jarang ada untuk ukuran Jakarta. Naluri pemangsa kami pun seakan bergejolak melihat ranumnya buah-buahan yang bergelimangan di setiap tangkainya yang rendah-rendah seakan layaknya wanita penggoda dipinggir jalan yang menunggu dipetik siapa saja. Rumah yang dibangun diatas tanah seluas kurang lebih 600 m2 itu terdiri dari 2 buah rumah yang saling bersambungan. Satu adalah rumah nenek, dan satu lagi ditempati oleh cucu kesayangannya, Anto. Rumah nenek memang sudah mengalami beberapa kali pemugaran, namun atap rumah yang terbuat dari genteng tanah dan anyaman masih sengaja dipertahankan keasliannya dengan alasan atap itu merupakan saksi bisu perjalanan hidup sang nenek selama ini. Walaupun tidak mampu menahan panasnya matahari maupun derasnya hujan, namun Atap itulah yang selama ini telah menaungi dia dari awal pernikahannya dengan mbah kakung hingga sekarang seorang diri menunggu ajal. Bau anyam-anyaman bambu yang masih tercium dari atap itu seakan memiliki aroma masa lalu terkadang mampu menghempaskan pikiran nenek ke masa 30 tahun silam. Masa dimana suka dan duka bersama suaminya dalam membina keluarga. Masa dari tidur hanya beralaskan tikar hingga empuknya kasur busa. Kenangan yang tidak jarang membuat nenek menitikkan air mata secara tidak sadar.

Menapaki jalan setapak sekitar 100 m ke arah belakang rumah, kita akan menemukan hamparan sawah yang mengering. Musim kemarau berkepanjangan telah menyebabkan banyak petani yang beralih profesi menjadi pembuat batako untuk menyambung hidupnya. Aktifitas yang dimulai pagi hari hingga sore hari dengan mencangkul tanah yang tadinya merupakan lahan untuk menanam padi. Panasnya udara kemarau yang mencapai 38 derajat celcius seakan tidak menjadi penghalang bagi para petani itu menghentikan aktifitasnya. Kulit hitam mengkilat, bau aroma menyengat matahari dikulit, lelehan keringat yang tiada henti dan guratan wajah kemiskinan, mampu membuat hati ini tersayat. Betapa kerasnya kehidupan untuk beberapa orang.

 

 

 

Perjalanan hari itu kami lanjutnya ke rumah embah kami lainnya yang berjarak 1 km ke arah timur. Rumah embah dari istriku ini sangat lah sederhana. terlalu sederhana malah, dengan genteng yang sudah tua dan bocor-bocor, dinding dari anyaman serta lantai yang masih berlapis semen saja. Ingin rasanya suatu hari nanti merenovasi rumah tersebut. Kadang tidak habis pikir, istriku pernah meninggali rumah tersebut hingga umur 10 tahun. Sewaktu kecil, istriku sepulang sekolah langsung menuju sawah dan kebun untuk bekerja lagi. makanya banyak sekali kenangan2an luka di tubuh istri. Dari yang terkenal pisau sampai tertusuk kayu. tidak usah dibilang bagaimana hitam nya istriku dulu. hahahah.. beda sekali dengan sekarang yang sudah putih kinclong. Malah dulu katanya, melihat mobil masuk desa saja sudah senang sekali. sampai dikejar-kejar hanya untuk melihat dari dekat bagaimana sih mobil itu. Makan hanya dengan nasi seadanya, yang kadang malah hanya dengan sayuran tanpa ayam atau teman2nya. Boro-boro mendapat susu waktu balita, beli nasi saja sudah setengah mati. hingga tidak jarang istriku ayam sepotong saja menjadi rebutan dengan sudara-sudara tirinya. dan tidak jarang, istriku hanya makan nasi campur kecap saja. Buat istriku dulu, bisa naik andong keliling desa waktu lebaran saja sudah mewah sekali. Tidak mengira memang bila sekarang malah bisa menikmati mewahnya Toyota Harrier.  hidup memang punya misteri sendiri. Rejeki sudah ada yang mengatur. Makanya jangan minta kaya. Sudah ada ketetapannya rejeki setiap orang yang pasti akan diberikan. Kalau memang rejeki kita 10 M pasti diturunkan 10M tanpa kurang sepeserpun! hanya saja, kita sabar atau tidak. Sabar dalam arti bagaimana kita meraih rejeki yang memang sudah digariskan ke kita tersebut. ada yang meraihnya dengan cara baik dan ada pula dengan cara yang salah. Padahal, semuanya akan tetap diberikan sesuai ketetapan-Nya. Semua memang permainan. Diberi rasa takut akan kemiskinan, sehingga terkadang putus asa dan berfikiran pendek untuk tetap kaya. Akhirnya, memilih jalan pintas. Bahkan tidak jarang, meninggal kan Tuhan demi mengais rejeki. Memang semuanya hanya permainan kalau kita sadari. Permainan yang membutuhkan kesabaran dan kesadaran, kalau semuanya ini sudah ada yang mengatur. Kita akan kembali lagi kesini kalau anakku sudah umur 3 tahun.

Di Pasar Pekalongan

Rumah Embah Kami disana

Reihan Bersama Mbah Kakung dan Mbah Uyut

4 comments

  1. mas ichsan… salah ketik comment? saya ini perempuan… salam kenal, juga buat keluarga yang indah itu….
    wass. wr. wb.


  2. bowkkkk … sutra laaah … tulisanmu itu suka membuatku terharu-biru entah mengapa?
    Ajarin gw nulis yg agak2 canggih dong …


  3. Mudik, wah sebuah pengalaman tersendiri dan selalu berkesan… dan biasanya (buat saya0 selalu ditandai oleh bertambahnya angka pada garis2 timbangan badan🙂

    Insyallah tahun depan saya harus mudik – demi kesimbangan jiwa dan silaturahim dengan sanak family – oh betapa indahnya kampung sendiri meski disana mungkin listrik belum ada..

    Salam hangat dari negeri si bau kelek!


  4. lebaran thn ini pulang sragi nggak mas? salam kenal dari anak sebelah desa



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: