h1

Dari Ichsan & Tanty

October 16, 2006

 

Prolog:

 Setahun lebih kami telah menikah dan telah di anugrahi seorang anak lelaki yang sehat dan tampan seperti ayahnya. Proses kami dari bertemu hingga menikah adalah relatif singkat dan dapat dikatakan hanya berbekal saling percaya dan berbekal janji untuk saling memahami dan setia dalam duka dan terlebih suka demi semata-mata untuk beribadah. 2 minggu pacaran, dengan mengucapkan Bismillah kami berdua memutuskan untuk segera menikah. Tanpa proses berbelit-belit 2 minggu kemudian kami-pun mengucap akad nikah dan resmi menjadi suami istri. Namun diluar mudahnya proses yang kami miliki,  kami menyadari bahwa perkawinan kami pun pada akhirnya akan sama seperti rumah tangga lainnya yang akan melewati fluktuasi suka dan duka dalam perjalanannya. Tidak selamanya akan berjalan diatas karpet merah. Ada pertengkaran dan kesedihan, namun juga ada keceriaan serta canda tawa dalam keluarga kami. Tulisan ini hanyalah sebagai suatu ajang berbagi pengalaman serta pandangan mengenai sebuah perkawinan dari kami berdua. Memang masih merupakan waktu yang singkat untuk dapat bercerita banyak dan masih banyak ujian yang harus dilalui. Namun pemahaman kami berdua mengenai sebuah arti perkawinan siapa tahu dapat berguna bagi yang membacanya.  Betapun banyaknya problema, duka dan airmata dalam setiap pernikahan, but still this is something worth for living. Sekaligus menjadi suatu jawaban bagi banyak pertanyaan, mengapa kita berani untuk menikah dengan proses begitu cepat dan yang terpenting TANPA DP! It’s very very big No-No.

Saling Cinta? Berarti anda sudah memiliki Modal cukup untuk menikah!

Rasanya sering kali kita mendengar keluhan dari teman-teman kita, terutama yang wanita, yang kebanyakan memimpikan untuk dapat cepat-cepat menikah karena takut akan faktor usia. Terlebih hidup di negara seperti Indonesia yang terkenal dengan budaya Patriarki-nya. Dimana seorang wanita dipandang lebih baik bila dapat menikah muda. Sehingga pernikahan seringkali terkesan dipaksakan hanya untuk menyelamatkan gengsi wanita bahwa dia “laku”. Asal sudah mapan dan ada sedikit rasa sayang sudah cukup alasan untuk segera menikah. Masalah Cinta? itu dapat dikompromikan kemudian. Namun dalam arus modernisasi sekarang ini, ada juga sebagian orang untuk memilih memegang teguh idealismenya untuk tetap melajang hingga benar-benar menemukan yang orang tepat secara moril dan materil. Karena mereka berpendapat, tidak ada seorangpun yang pada nantinya ingin mengalami perceraian sehingga lebih baik terlambat menikah daripada menikahi orang yang salah. Tidak ada yang salah menurut saya karena apapun posisi sikap anda mengenai perkawinan, semuanya bermuara pada satu hal pencapaian tujuan hidup, yaitu kebahagiaan.

Namun sayangnya, tidak ada ceritanya dalam real world setting seseorang menemukan pasangan yang ready to serve 100% sesuai dengan yang kita inginkan. Dan beberapa dari Anda mungkin sudah memiliki kisah sendiri bagaimana tahun-tahun awal pernikahan anda.Selalu ada sisi lebih dan kurangnya selama yang kita kawini itu adalah manusia. Memang kita diberi Cinta yang merupakan anugrah Illahi. Tapi bila kita telaah lebih lanjut, modal awal yang telah diberikan oleh Tuhan dan diberi nama Cinta tersebut adalah kata kerja, bukan kata sifat. Jadi harus disadari bahwa ini adalah hal yang memerlukan suatu usaha agar tetap exist dalam hati masing-masing pihak. Dan memerlukan adanya suatu  motif yang lebih besar dari Cinta untuk bahagianya sebuah perkawinan, yaitu Tujuan anda menikah. Tujuan yang menjadi hasrat, dan kemudian menjadi semangat sehingga menjelma menjadi suatu referensi abadi di dalam hati dan menjadi penuntun langkah bagi masing-masing pihak setiap kali menghadapi gejolak perkawinan agar dapat melaluinya dengan selamat. Pemahaman bahwa tujuan anda menikah adalah satu dari sekian jalan Tuhan untuk beribadah kepada-Nya. Sehingga membuat anda berani untuk ikhlas menerima apapun cobaan yang diberikan pada perkawinan anda nantinya. Mungkin ada baiknya bila kita coba mengingat bagaimana proses awal-nya Mars and Venus things berawal.

Alkisah dari Adam yang tengah berjalan-jalan disurga suatu hari dengan perasaan penuh kesepian. Tuhan mengetahuinya dan merasa ikut sedih melihat ciptaan merasa kesepian seperti itu. “Kamu begitu terlihat sedih hari ini Adam, apakah ada yang dapat Aku bantu” Tuhan bertanya padanya. “Ngg… seperti akan menyenangkan Wahai Tuhanku bila aku memiliki seorang teman untuk berbicara dan berbagi” kata Adam.

“Baik, bagaimana kalau begini. Aku akan ciptakan seorang teman untuk mu. Dia adalah seorang wanita. Dia akan memasakkan makananmu, dan ketika kalian sudah Ku perkenalkan dengan baju, dia yang akan mencucikannya untukmu. Dia akan selalu setuju dengan langkah dan keputusanmu. Dia tidak akan membantahmu dan akan selalu mengakui bersalah saat kalian berselisih-paham. Dan dia akan membesarkan anak-anakmu tanpa mengeluh maupun membangunkan mu disaat malam kau tertidur lelap untuk mengurus mereka. Dia akan memberikan cinta dan perhatiannya kepadamu setiap saat dan dia tidak akan tidur dengan membawa pikiran pusing di kepala”.

“Wow, tampaknya menyenangkan” kata Adam, keingintahuannya meningkat. “Lalu apa harga yang harus kubayar untuk seorang wanita Wahai Tuhanku”

“Sebuah Tangan dan Kaki”

Adam ragu untuk sejenak. Dia merasa harganya terlalu mahal untuk seorang wanita. Kemudian setelah berfikir sejenak Adam-pun mencoba bernegoisasi. “Apa yang saya dapat bila hanya dengan sebuah Rusuk?”

Selanjutnya adalah sejarah….

Kita tertawa, tapi terkadang begitulah yang terjadi dengan perkawinan. Menempatkan ekspektasi dengan berbohong sedikit untuk mendapat yang banyak. Terkadang penuh dengan intrik-intrik hanya untuk memenangkan hati seorang wanita.  Seperti halnya sesaat setelah menikah, Teman-teman pria saya banyak yang bertanya serius sembari becanda “Siapa nih yang ngerasa ketipu? you? or your wife? Sehingga pemahaman yang umumnya muncul adalah memang diperlukan untuk menjalin kebersamaan beberapa waktu agar dapat mengetahui apakah seseorang adalah tepat atau tidak. Memang tidak salah, tapi kami memiliki pendapat berbeda, selama namanya proses pacaran, masing-masing pihak akan tetap memakai topeng dalah kesehariannya. Sebelum saya menikah telah, saya telah pacaran sebanyak lebih dari 10 kali dan istri sebanyak 4 kali, dan kita tahu benar bahwa kita tidak akan pernah dapat menjadi diri sendiri 100% bila konteksnya masih berpacaran. Banyak bukti bukan disekitar kita, ada yang telah berpacaran selama 10 Tahun, tapi perkawinannya hanya berumur setahun karena ternyata apa yang kita pahami selama ini terhadap pasangan ternyata jauh melenceng setelah menikah.  Ada suatu missing point disini yang terkadang tidak kita sadari. Hal yang tidak dapat diketahui terlepas dari berapa lamapun anda pacaran, yaitu wajah sebenarnya pasangan kita dibalik topengnya. Topeng yang akan dilepas masing-masing pihak pada saat telah mencapai suatu safety point atau comfortable zone, yaitu Pernikahan.

Meskipun tidak dipungkiri, bagaimanapun juga menghadapi dunia seorang sendiri tentunya akan lebih mudah bila dihadapi berdua pasangan.  Tapi juga jangan lupa, permasalahan yang anda lalui berdua juga tidak akan seringan dibanding saat hidup sendirian, karena memang begitulah dunia ini dibangun, yaitu pada pondasi  “keseimbangan”. Dan pernikahan yang sukses tidaklah hanya kesiapan materi semata, tapi juga dibutuhkan kesiapan mental, persamaan persepsi, saling percaya, keikhlasan untuk setia dan berkorban untuk pasangan, dan yang terpenting mampu membuat kita jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama di sepanjang umur hidup kita. Selain itu juga diperlukan sebuah kekompakan Tim dalam perjalanannya. Dan kekompakan berarti pemahaman dan kepercayaan penuh terhadap pasangan. Batu karang terbesar bagi pasangan muda seperti kita adalah menghadapi tembok ego masing-masing dalam perjalanannya. Sehingga berpulang pada karakter dan tujuan masing-masing dalam perkawinan itu, apa yang anda cari dari sebuah perkawinan terutama dari pasangan anda. Banyak contoh pasangan yang bercerai tidak sampai 5 Tahun perkawinannya, bahkan beberapa setelah puluhan tahun sekalipun  karena tidak adanya suatu pegangan atau referensi yang abadi apa yang harus dilakukan saat sebuah perkawinan sedang diuji. Terlebih bila ternyata motif pernikahan tersebut hanya untuk mengejar kepentingan dan ego masing-masing saja.

Namun banyak juga pernikahan yang berhasil dari para pasangan muda karena mereka mau saling belajar dan tumbuh dewasa bersama untuk mencapai suatu hubungan kerjasama yang solid. Sayangnya, jaman sekarang ini konteks “kesiapan” itu sendiri seringkali lekat dengan kesiapan materi, hanya dinilai siap bila sudah mampu menyelenggarakan pesta pernikahan yang mewah. Terlebih dari pihak wanita. Bisa saja kita memiliki semua yang diidam-idamkan setiap pasangan baru menikah. Sudah punya rumah, mobil dan deposito berlimpah. Tapi ada satu yang terlupakan, dalam perkawinan cinta adalah sebuah proses berkesinambungan. Dan kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja, namun diperoleh melalui taraf pembuktian. Disinilah missing pointnya. Kita bisa saja mampu membeli sebuah kue termahal sekalipun, namun ada satu hal yang jangan anda lupakan, Kita tidak bisa membeli rasanya. Tetap ada hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang sekalipun, Yaitu cinta dan kesetiaan seorang wanita. Harta paling bernilai dalam sebuah perkawinan yang hanya dapat dibeli dengan Hati sebagai alat tukarnya. Kecintaan untuk selalu berusaha memberikan yang terbaik, dan kesetiaan untuk menemani melewati derasnya terpaan ombak kehidupan. Walaupun sayangnya, kesetiaan tidak selalu berkorelasi erat dengan cinta, tapi dalam kesetiaan pasti ada cinta. Cinta dapat pudar, tapi kesetiaan, adalah hal yang abadi. Dibutuhkan rasa cinta yang datang dari ketulusan hati yang paling dalam untuk dapat setia dari pasangan. Karena itulah mengapa cinta merupakan One in a millions Gift from Above and not something you can buy in any shop in town.

Find The Key of Her Heart!

Awal saya memperkenalkan istri saya kepada lingkungan sekitar saya, ada satu pernyataan universal yang beredar dikalangan mereka tentang saya “What a Damn lucky Bastard!” Ya, sadis memang apa kata masyarakat! Karena bagaimana mungkin dengan penampilan yang hanya mepet sedikit diatas rata-rata bisa mendapatkan istri yang cantik, tidak mengeluh dengan uang jajan pas-pasan. Rela mengganti tempat belanja dari Sogo ke Ramayana. Dan rela turun tahta dari naik CRV hanya ke sebuah sepeda tua (seperti diperagakan oleh model di gambar ini heheh..). Entah saya sendiri juga suka bertanya, apa ini karena sudah nasib baik saya atau karena pelet salah sasaran? Ataukah memang legenda Benyamin dan Ida royani kembali bersemi?

Pernah saya bertanya ke Istri saya, “Kamu tidak mau pedicure, manicure, atau luluran lagi ke salon? Nanti complain lagi ke aku, belom umur 40 kulit udah keriput akibat kurang dana buat ngerawat diri” tanya saya sambil tertawa. Karena setelah menikah, jarang lagi saya melihat istri menghabiskan uang jutaan hanya untuk merawat wajah atau rambutnya. Jangan bandingan dengan saya yang cukup pergi ke PAX (“Salon Selera Para Wanita”). Yang cukup dengan 40.000 rupiah saja plus pijat, kepala saya sudah cepak terawat. Saya sendiri sedih karena tahu istri saya itu gemar sekali merawat diri sebelumnya dan mencoba untuk empati dengan penghasilan saya yang belum seberapa. 

Namun jawaban istri saya cukup membuat saya terharu. “Papa, bukan umurlah yang membuat kerutan di wajah berusia 40 tahun, namun emosi kesedihan dalam kehidupan kita selama 40 tahun itulah yang banyak menimbulkan kerutan diwajah” paparnya tersenyum. “Jadi cukup Papa buat hati Mama senang saja buat sementara ini. Toh, ada supplement lain yang lebih murah kan untuk lebih awet muda” tambahnya, sambil memasang muka nakal dan melirik-lirik ke bawah. Oke, Cukup sampai disitu.

Namun bukan lirikan itu pesan moral yang hendak saya sampaikan. Tapi sebuah teknik. Teknik yang mungkin diperlukan bagi pria-pria berwajah biasa, namun mengharapkan istri yang luar biasa. Dan lebih hebat lagi, bagaimana mempertahankan kebahagiaan rumah tangga Anda, sebagai bagian paling sulit setelah mendapatkan.

Key no 1 : Kuasai Bahasa Universal

Orang Inggris berbicara inggirs, Orang Indonesia bicara dengan bahasa Indonesia, Orang Afrika bicara dengan bahasa afrika. Namun untungnya, kita memiliki satu lagi bahasa lagi yang dapat dimengerti oleh sesama manusia terlepas dari ras maupun tingkat sosial, yaitu bahasa hati. Bagaimanapun lancarnya pernikahan kami, namun tetep Pernikahan adalah suatu jalan panjang dan dinamik.  Tidak mungkin tidak terdapat konflik didalamnya sebaik apapun hubungan anda. Karena seperti yang telah saya katakan, masalah akan selalu ada dalam setiap rumah tangga untuk dipecahkan. Bila masing-masing memiliki bahasanya sendiri untuk memecahkan masalah tersebut, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Tidak akan pernah ada solusi bagi masalahnya. Itu sebabnya anda harus menguasai bahasa universal ini, yaitu seni bicara dari hati ke hati atau bahasa hati. Bicara dari hati ke hati sangat lah manjur untuk membicarakan seluruh permasalahn yang ada dalam kehidupan anda berdua. karena landasan bicara dari hati ke hati adalah “love” and “respect”. Masing-masing pihak harus bersedia mendengarkan tanpa memasang mekanisme difensif  dan bersikap untuk menahan diri serta berhati terbuka. Perbincangan itu haruslah menimbulkan suatu perasaan bahwa, pasangan kita mendengar dan merasakan apa yang kita rasakan. Tidak ada yang boleh merasa terlalu tinggi untuk mendengarkan atau ada yang merasa terlalu rendah untuk didengarkan. Dan jangan sekali-sekali anda membangun kultur Bicara dari hati ke hati hanya sebagai ajang untuk merekam setiap omongan salah dari pasangan kita dan memutarnya kembali di masa mendatang saat terjadi konflik sebagai alat untuk menekan pasangan atas keselahan dia dimasa lampau. Sebagai tahap awal, tidak penting apakah persoalannya selesai atau tidak, karena tujuan utamanya adalah untuk menumbuhkan rasa kesatuan dan kebutuhan untuk anda berdua agar selalu berbicara dari hati ke hati dengan kesabaran dan tanpa saling tuding atau membuat kesimpulan sendiri berdasarkan kesalahan masa lamapu, fokus dengan apa yang yang sedang dikatakannya hingga masalah selesai.

Saya dan istri mungkin sudah ratusan kali berbicara dari hati ke hati. Dari soal biaya pernikahan, persalinan, kebutuhan sehari-hari, keuangan, karir, sampai masalah anak dan kami berdua. Terlepas dari selesai atau tidaknya permasalahan yang kami hadapi, namun ada satu hal yang pasti terjaga, kedekatan hati kami berdua disetiap permasalahan. Perlu diingat, seringkali kita menuntut atau berharap pasangan kita untuk dapat mengetahui apa isi hati atau pikiran kita. Tapi sadarilah, mereka juga hanya manusia biasa, bukan dewa. Dan tidak perlu kita marah-marah pada pasangan untuk sesuatu yang bahkan dia tidak sadari atau ketahui. Itulah gunanya bicara dari hati ke hati. Belajar mengemukakan apa yang disimpan dihati anda secara terus terang berdasarkan azan non defensif, love dan respect.

Key No 2 : Sadari Mereka hanyalah manusia Biasa.

Awal pertemuan saya dengan istri, penilain yang melekat atas dirinya adalah, What A Perfect person! Cantik, Pintar, Jagoan, penuh perhatian, Baik hati dan tidak sombong. Seakan tidak ada dipikiran saya waktu itu kalau nantinya dia akan melakukan hal-hal bodoh yang membuat saya marah. Namun setelah hidup bersama selama setahun, baru lah saya sadari bahwa dirinya juga manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan. Dan memang terkadang kita sering lupa untuk menyediakan ruang di hati untuk menerima kenyataan bahwa pasangan kita hanya manusia biasa. Manusia itu dinamik. Dan berubah. Kadang kita salah berbicara, salah membuat penilaian, salah memutuskan. Bahkan kepada orang kita cintai sekalipun. Namun seringkali pasangan yang sudah menikah berasumsi bahwa pasangan kita haruslah pasangan yang luar biasa. Lalu dibuatlah aturan-aturan dan harapan-harapan yang mana bila dilanggar atau tidak dipenuhi kita marah, cemburu, kecewa atau tersinggung. Secara tidak langsung kita telah membuat suatu jebakan batman atas hubungan kita sendiri-hanya karena pasangan kita manusia biasa. Sehingga banyak hubungan pada akhirnya tidak lagi memiliki jiwa dan daya hidup karena tidak mampu lagi saling berbicara jujur. Siapa juga  yang dapat berbicara jujur dari hati ke hati bila pasangan kita tidak mengizinkan kita untuk menjadi manusia biasa? Yang pasti bukan kami. Maka dari itu kami banyak menyimpan maaf dihati masing-masing. Karena sadar kita hanya manusia biasa. Dan manusia berbuat kesalahan. namun juga diberikan kemampuan untuk memaafkan disaat bersamaan.

Key no 3 : Be a Spiritual Leader!

Kunci dari hati seorang wanita tidak lain adalah hati pria itu sendiri. Kunci yang datang dari Hati seorang pemimpin. Karena bagaimanapun tegarnya seorang wanita, tetap tidak dapat lepas dari kodratnya untuk selalu memuja pria yang dapat memimpinnya. Yang otomatis juga berarti menaklukkan hatinya.  Namun bisa dikatakan jarang ditemui ada seorang yang benar-benar pemimpin bijak. Selama saya berkarir pun, belum pernah saya menemukan seorang pemimpin sejati. Yang ada hanya Bos. Tapi bukan Pemimpin sejati. Seorang pemimpin adalah seseorang yang seharusnya melayani, dan bukan hanya memerintah. Tahu bahwa tugas yang diembannya sebagai pemimpin adalah untuk melayani bukan semata hanya dilayani. Sama hal nya juga dengan keluarga. Pemimpin keluarga yang sejati adalah yang tahu bahwa tugasnya utamanya adalah mengayomi dan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. Titik. Tanpa kesadaran dan konsistensi dari seorang pemimpin, tidak mungkin dia dapat memimpin keluarga secara baik. Jadi tahu dulu benar-benar, apa itu sebuah kepemimpinan dalam rumah tangga? yaitu Pengorbanan. Hanya saja, pemahaman yang selama ini ada, konteks pengorbanan selalu lekat dengan women submission (Kepatuhan). Tapi jangan diartikan disini bahwa wanita adalah sama derajatnya. Saya tidak setuju. Bagaimanapun, alasan Pria diciptakan dengan segala macam kelebihannya dari seorang wanita adalah untuk memimpin. Submission yang saya maksudkan disini haruslah yang bersifat resiprokal dan berjenjang. Tidak lagi konteksnya “husband Lead, Wife Submit” secara kasar. Namun harus disadari disini, Lead bagi kepala rumah tangga juga merupakan wujud submission dia menuju “Oneness” (Keutuhan). Inilah yang harus menjadi dasar pemikiran setiap kepala rumah tangga. Yang paling bahaya itu dalam rumah tangga adalah pria nya. Semenjak Pria adalah pemimpin. Sekali lagi, bukan berarti kita sebagai kepala rumah tangga harus takut pada istri. Namun harus disadari bahwa paradigma sebagai pemimpin rumah tangga adalah menjamin keutuhan rumah tangga itu lebih penting dari dirinya sendiri! Sehingga konteks kepatuhan istri kepada pemimpin menjadi lebih solid bila pemimpinnya itu sendiri juga patuh kepada Tuhannya untuk menjaga keutuhan rumah tangganya. Dengan kata lain, kepemimpinan berbasis spiritual.

5. But You Need a Master Key to unlock those keys.

3 kunci yang telah saya katakan diatas sayangnya masih membutuhkan 1 lagi kunci master agar dapat membuka seluruh pintu kebahagian dalam rumah tangga anda. Yaitu, “Kunci Ikhlas”. Tanpa master key itu tidak mungkin ada memperoleh 4 anak kunci seperti yang saya kemukakan diatas. Karena 4 kunci tersebut membutuhkan suatu motivasi yang datang dari pemahaman atas kehidupan ini dari hati yang paling dalam dalam aplikasinya sehari-hari. Pemahaman bahwa apapun itu yang dihadirkan ke dalam kehidupan kita adalah untuk kebaikan kita sendiri. Walaupun dari sudut pandang kita mungkin adalah kesialan atau kesengsaraan.

Namun bila anda lebih banyak membaca baca buku2 seperti seven habbit atau chicken soup dari pada La’Tazan atau Spiritual Quation oleh Ari Ginanjar, maka akan sulit bagi anda untuk dapat menerima paradigma ikhlas. Tapi bila anda cermati, untuk dapat melakukan apa yang dituliskan di 7 habbit itu pun ada satu hal yang hilang, yaitu apa motivasi sebenarnya hingga mampu membuat manusia dapat kuat menahan emosi untuk tetap bersikap baik dan adil kepada manusia lainnya walaupun tidak ada imbal baliknya? Tidak masuk akal bila semuanya akan hukum aksi reaksi terjadi sedemikian sempurnanya dalam real world setting seperti yang diillustrasikan oleh steven covey. Bila centrenya hanyalah mengharapkan timbal balik dari manusia itu juga, saya yakinkan, anda hanya kan menemui kekecewaan. Hanya Allah lah sebaik-baiknya pemberi balasan, bukan manusia. Tidak semuanya manusia adalah paham atau mau rela bersikap reciprocal seperti yang dituliskan di seven habbit atau chicken soup. Karena memang begitulah manusia. Memiliki kelemahan mendara, “Tidak lepas dari berbuat salah dan ketidaksempurnaan”. Coba anda tanyakan, berapa kali anda dikecewakan oleh manusia? Saya rasa Many times!

Lalu bagaimana dengan halnya kita pernah melihat ada yang mengalami kemiskinan amat sangat, musibah beruntun, sakit berkepanjangan, tidak memiliki keturunan, anak yang terlahir cacat, atau selalu di dhazilimi selama hidupnya. Apakah tidak cukup bagi kita untuk kecewa pada Allah SWT? Mengapa diberikan kemalangan seperti itu? Sebuah pertanyaan bagi yang tidak mengerti Agama dan Tuhannya. Karena semuanya itu dapat menjadi kebahagian bila anda paham benar apa makna dibalik itu semua. Allah pernah berkata, “Bagi yang bersabar atas apa yang dideritanya, maka surga balasannya”. Logikanya tidak mungkin cobaan atau pun kekurangan yang diberikan pada diri kita adalah hanya hal yang sia-sia begitu saja. Semuanya ada hitungannya bersama dengan kesabaran dan keihklasan kita. Contohnya, akan betapa sialnya kita bila terlahir buta? Lalu pengganti apa yang lebih layak dari 2 mata indah anda? Tak lain yang lebih layak hanyalah Surga. Apa penggantinya dari sakit berkepanjangan? Surga! Apakah balasannya dari ihklas menerima musibah? Again, surga! Sehingga perlu saya katakan, tanpa adanya rukun Iman dihati, mustahil bagi anda untuk dapat

Jadi buat apa anda bersedih atau kecewa terhadap pasangan anda atau kondisi rumah tangga anda, bila anda tahu apa balasannya dibalik itu semua? Tidak mungkin anda akan mengeluh dengan pasangan atau mendengar istri mengeluh mengenai uang belanja atau materi lainnya bila anda berdua menyadari apa arti anda hidup di dunia ini. Sehingga tidak lagi anda berdua akan merasa kecewa atau bersedih bila pada diri anda berdua memiliki pandangan yang sama mengenai apa arti hidup. Apa itu ihklas. Karena semuanya akan diganti dengan yang lebih baik bila kita ihklas. Memang mungkin tidak didunia ini, namun kehidupan di akherat nantilah yang seharusnya kita capai dengan kerja keras. Mengharapkan manusia untuk mau berbuat dan bersikap sesuai dengan kemauan dan harapan kita, sama saja dengan kita menabur garam dilaut. Ujungnya hanya pada Kekecewaan dan kesedihan. Hal yang hanya akan membuat diri kita mundur dan tidak maju. Hal yang hanya akan mematikan motivasi diri untuk berbuat lebih baik bagi hidup anda sendiri. Walaupun saya yakin anda, juga mengerti dan bisa membayangkan, kata “Ihklas” bukanlah 6 huruf sederhana yang mudah diaplikasikan begitu saja. Karena begitu berat dan sulitnya untuk memiliki hati yang ihklas hingga surga adalah balasannya. Jadi bila ingin memiliki istri yang cantik, pengertian dan mampu membuat anda bahagia, carilah dulu kunci ihklas. Dihati anda. Mulailah mengajarkan arti ihklas pada diri anda, dan pada istri maupun anak anda. Selamat berbahagia.

 

From Us

Ichsan & Tanty

8 comments

  1. gw terharu banget bacanya. Beneran neh 2 minggu??? Bisa yaaa ….
    Ini toh yg namanya serendipity??


  2. loe mendingan bikin buku deh, daripada nulis blog panjang kayak gini. kebanyakan waktu lowong di kantor yeh.

    anyway bagus tulisannya, cuman males bacanya kepanjangan gini.


  3. kayakx enak bgt dengerx
    apa emg kayak geto??
    i wish i’ll find my soulmate
    nawir where r u?


  4. wah..gw cowok yg sehati bgt ma lo. sumpah..n gw byk tau plajaran ttg hdp spt yg lo paparin itu dr cewek gw..tp gw ma cw gw blm prnh ktmuan..kt mnjlani hy via tlp. n chat aja..yg terlebih keikhlasan gw diuji skrg,krn dia mnikah smalam dg org lain krn satu alasan yg sgt2 dpt gw trima..dia nikah ama bule yg lbh tua 4Othn darinya..u know what she mean..n gw ikhlas aja..wlau sakit skrg..tp gw pst bisa..bisa..


  5. bagus ceritanya, itu gambar aslinya apa menggunakan model, so sweeeet banget bersepeda kebo/unta (istilah Jogya ato Solo)


  6. hahah.. itu saya sendiri sama istri pak yang jadi model. thanks yah..


  7. gambar2nya romantis. warna2nya representativ banget. salam knal


  8. Q suka bget….
    “Cinta tu kta krja bukan kta sifat”
    btul bget….



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: