h1

There’s Hope for Working Parents

September 21, 2006

Anak Dan Problematika Orang Tua Bekerja

Perkembangan Mental yang sehat bagi seorang anak juga ditentukan oleh intensitas kebersamaan serta interaksi yang konsisten antara orangtua dengan kehidupan anaknya.
Ketika Kebersamaan Menjadi Intinya
Tidak ada seorang anak-pun akan setuju dengan kebanyakan mindset orang tua sekarang yang berprinsip bahwa kualitas pertemuan dengan orang tua adalah sudah mencukupi.
Karena bagaimanapun juga kuantitas selain kualitas kebersamaan dengan orang tua bagi seorang anak tetaplah penting karena sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan moral diri anak itu sendiri. Menurut penelitian, interaksi langsung yang sering terjadi antara orang tua dan anak sangat berperan banyak dalam pembentukan karakter dan moral anak yang lebih baik.
Sebut saja contohnya untuk kasus-kasus remaja ibukota seperti kasus narkoba dikalangan pelajar atau kasus di dunia pendidikan Indonesia saat ini yang sedang berkabung akibat sekitar 20% siswanya tidak lulus ujian nasional. Menurut tokoh pendidikan Jateng Drs H Sudharto MA di Semarang, hal ini juga secara tidak langsung disebabkan oleh kurangnya interaksi antara orang tua dengan anak dan pihak sekolah akibat waktunya yang sudah tersita dengan pekerjaan mereka. ”Anak-anak kita jangan diurus pembantu dan pengemudi, orang tua juga harus selalu mendampingi mereka.” saran Drs H Sudharto MA.
Riset terakhir menguatkan apa yang dikatakan oleh tokoh pendidikan Jawa Tengah tersebut. Survei paling komprehensif yang pernah diadakan mengenai remaja menemukan bahwa remaja yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya, dengan keluarganya, serta dengan komunitas sekolahnya, akan lebih sehat jiwanya daripada yang tidak. Dan hal tersebut tidaklah tergantung pada ras, etnik, struktur keluarga, atau pun status ekonomi. Namun tergantung pada seberapa besar perhatian orangtua mau meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anaknya. Lebih lanjut, studi yang sama menyatakan bahwa semakin banyak interaksi bersama yang diikuti orang tua dan anak, semakin efektif untuk mencegah kasus kehamilan atau narkotika di kalangan remaja (Blum & Rinehart, 1997)
Sehingga patut diingat bahwa anak, terlebih yang sedang beranjak remaja masih memerlukan orang tuanya sama seperti halnya seorang bayi dan balita. Pentingnya kebersamaan antara orang tua dengan anak tidak boleh berkurang bahkan pada saat anak beranjak dewasa sekalipun.
Namun kondisi perekonomian Indonesia, terlebih setelah krisis moneter memang memaksa para ibu-ibu rumah tangga mau tidak mau juga harus turut ambil bagian membantu perekonomian keluarga. Hubungan antara anak dan orang tua yang sebelumnya masih dapat tertutupi dengan adanya kehadiran ibu dirumah, sekarang menjadi semakin merenggang di tengah situasi keluarga yang kedua orangtua-nya bekerja dan menitipkan anaknya sehari-hari dalam asuhan pembantu atau anggota keluarga lainnya. Lalu apa solusinya agar kualitas dan kuantitas kebersamaan antara orang tua yang sibuk bekerja dengan anak dapat tetap terjaga? Jarak dan waktu adalah kendala utama bagi orangtua masa kini yang sibuk bekerja namun berharap untuk tetap dapat menjalin kebersamaan yang harmonis dengan anak. Untuk itu dibutuhkan sebuah tools yang mampu menutup jurang pemisah antara anak dengan permasalahan orangtua masa kini. Solusi untuk permasalahan ini akan segera dapat terjawab dengan akan hadirnya layanan komunikasi berbasis teknologi generasi ke tiga (3G) di tanah air kita seperti yang telah banyak digembar-gemborkan di berbagai media massa. Sebuah teknologi telekomunikasi yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan keluarga masa kini.
Teknologi Menjadi Solusinya
Memang tidak dipungkiri bahwa dewasa ini teknologi semakin menyatu dengan manusia dan bahkan sering menjadi jawaban untuk mempermudah kehidupan di segala hal. Salah satu provider telekomunikasi, ProXL, dengan visinya “Life Unlimited”, sebentar lagi juga akan menghadirkan teknologi telekomunikasi berbasis 3G di Tanah Air. Sebuah layanan telekomunikasi yang memungkinkan kita untuk dapat berinteraksi dengan sesama bukan hanya melalui media suara saja, namun juga sekaligus menikmati tatap muka dengan lawan bicara dan berinteraksi secara langsung melalui fasilitas video on call. Sehingga kendala jarak dan waktu tidak lagi jadi penghalang berkat adanya layanan 3G ini, untuk dapat tetap menjaga keharmonisan dan kebersamaan antara orang tua yang sibuk bekerja dengan anaknya.
Layaknya sebuah kendaraan yang seakan sudah menjadi kebutuhan primer bagi keluarga masa kini, mobilitas dan konektifitas secara realtime pada saatnya juga akan menjadi sesuatu yang vital dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga perlu disadari, manfaat layanan 3G terbaik pada nantinya bukanlah pada fungsi voice, atau layanan data supercepat semata. Karena kalau hanya fungsi voice, sudah jelas, layanan GSM yang sekarang pun sudah lebih dari cukup untuk dapat berkomunikasi kapan saja dan dimana saja. Bahkan untuk komunikasi data seperti email maupun layanan internet dengan teknologi GSM 2.5G seperti GPRS atau EDGE juga dirasa masih belum maksimal dalam penggunaannya oleh masyarakat sekarang. Namun lebih dari itu, manfaat layanan 3G akan menjadi suatu katalisator convergence bagi digital lifestyle sebenarnya dengan kehidupan konvensional. Pada nantinya PDA dan smartphone juga akan menjadi suatu alat dan sarana yang sangat berperan penting dalam sebuah keluarga seperti halnya sebuah kendaraan pribadi atau pembantu rumah tangga. Dari orangtua yang sibuk bekerja mencari uang, anak dengan keasikan bersosial dan sekolahnya, hingga pihak guru dan sekolah, semuanya akan melengkapi diri dengan perangkat mobile 3G agar hubungan yang harmonis dapat terus terjalin diantara mereka.
Karena tingkat komunikasi yang interaktif, yang mampu membangun intimacy dan rasa kebersamaan selama berkomunikasi hanya dapat terjadi bila kita dapat menatap wajah lawan bicara. Bagaimanapun juga, perasaan yang ditimbulkan akan berbeda bila dalam proses berkomunikasi tersebut kita dapat berbicara, melihat dan mendengar pada saat bersamaan. Seakan-akan tidak ada bedanya dengan kita berbicara sendiri dengan lawan bicara kita secara nyata.

3G Untuk Kebersamaan Keluarga
Ditahap manapun kita berada, 2G ataupun 3G, sebentar lagi kita harus dapat menerima kenyataan bahwa mobilitas serta konektivitas akan menjadi suatu yang tidak terpisahkan dalam kehidupan berkeluarga.

Mengikuti cepatnya perkembangan teknologi telekomunikasi, mungkin dapat sedikit memusingkan bagi orang awam untuk dapat paham sedemikian banyak teknologi maupun jargon-jargonnya. Secara sederhananya, Third Generation technology (3G) dapat kita konotasikan sebagai teknologi komunikasi Video on call dan faster data transmission. Karena salah satu perbedaan utama antar teknologi komunikasi 3G dengan teknologi GSM yang ada sekarang (2G & 2.5G) adalah terletak pada kapasitas transmisi data yang tersedia bagi si pemakai hingga memungkinkan kita untuk berbicara sambil bertatap-muka dari sebuah handphone. Sebagai perbandingan, bila dalam jaringan 3G kapasitas transmisi data mampu mencapai 2Mbps, maka dalam arsitektur jaringan 2G kecepatan transmisi data bervariasi hanya antara 9,6 Kbps hingga 14,4 Kbps. Dan pada generasi penerusnya yaitu 2,5G dalam prakteknya mampu memiliki kecepatan sebesar 57,6 – 112 Kbps untuk GPRS. Sedangkan EDGE secara teoritis mampu mencapai kapasitas transmisi hingga 384 Kbps.
Namun seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, keunggulan teknologi ini terletak pada flexibilitasnya nanti yang akan membawa rasa baru dalam berkomunikasi. Teknologi yang dapat membuat banyak kemungkinan dalam aplikasinya nanti. Menelpon maupun terkoneksi, akan menjadi suatu pengalaman yang begitu personal, mengasikkan dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Berinteraksi secara nyata. Mungkin ada gunanya bila kita membawa diri sejenak ke masa depan dan melihat seperti apakah aplikasi digital lifestyle dalam sebuah keluarga saat teknologi 3G sudah terealisasi secara penuh dan menyatu dalam kehidupan masyarakat.
Kebersamaan Tanpa Batas
Bayangkan sebuah keluarga dengan 2 orang anak, Tia dan Kiko, yang harus menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya bekerja. Tia, adalah yang terbesar dan sedang menikmati indahnya masa-masa SMA. Sedangkan Kiko yang terkecil, baru saja akan masuk sekolah dasar.
Untungnya dengan hadirnya teknologi 3G di tengah keluarga mereka, sang Ibu masih dapat menemani anaknya yang terkecil disela-sela kesibukannya di kantor pada hari pertama anaknya masuk TK. Dengan sabar memberi pengertian kepada anaknya sambil bertatapmuka dan berinteraksi melalui video on call agar tetap tenang dan tidak perlu merasa takut di hari pertama masuk sekolah. Sang anak pun merasa tenang hatinya, karena menyadari bahwa ibunya tetap dapat menemani dirinya kapanpun dibutuhkan.
Pada saat yang bersamaan, sang Ayah yang tengah bekerja di kantor tiba-tiba teringat bahwa hari itu adalah hari pertemuan antara orangtua dengan guru-guru disekolah anaknya yang tengah duduk di bangku SMA. Pertemuan rutin untuk membahas kemajuan pendidikan anak ditiap-tiap semesternya. Di sekolah anaknya tersebut, jaringan 3G untuk konektivitas telah benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Agar memungkinkan para orang tua dapat sepenuhnya berpartisipasi dan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk kehidupan anak-anak mereka juga. Sesibuk apapun.
Sekolah itu memiliki sebuah portal Web yang memungkinkan para orangtua untuk dapat terkoneksi dengan situs Web ini dan berkomunikasi secara langsung dengan para guru melalui video on call. Atau mencari informasi seperti data kehadiran murid maupun akses terhadap data-data yang berkaitan dengan nilai mata pelajaran maupun prilaku mereka disekolah. Sehingga berkomunikasi melalui video on call sudah menjadi hal umum disekolah itu, sama halnya dengan mulai lazimnya bersilaturahmi melalui SMS/MMS saat hari lebaran. Dengan adanya fasilitas ini, sang ayah melalui smartphonenya dapat tetap menghadiri acara tersebut, walaupun hanya secara virtual. Akhirnya melalui video on call tersebut sang ayah mengikuti acara tatap muka sambil sesekali bertanya kepada para guru yang hadir saat itu seputar pendidikan anaknya disekolah.
Memang, kecenderungannya Anak Baru Gede (ABG) jaman sekarang seringkali enggan bila aktifitas mereka “diganggu” dengan kehadiran orang tua dilingkungan mereka. Entah dengan alasan mereka yang merasa sudah dewasa hingga malu dengan teman-temanya. Ataupun karena merasa tidak lagi memiliki ikatan emosi yang terlalu dekat dengan orangtuanya. Banyak alasannya. Namun tidak bagi Tia. Peran orangtuanya yang selama ini selalu menanamkan nilai-nilai yang positif kepada anaknya, telah membawa Tia kepada suatu pemahaman bahwa seorang anakpun harus memiliki tanggung jawab tidak hanya pada dirinya sendiri namun juga kepada orang lain, terutama orangtua.
Tia yang terkadang pulang malam menghadiri acara pesta teman-temannya kini tidak lagi membuat was-was orangtuanya yang menunggu di rumah dengan adanya fitur Location Based Service dari 3G. Fitur ini bekerja seperti layaknya sebuah tracking device yang memungkinkan pemakainya dapat mengetahui lokasi geografis seseorang, ataupun kendaraan baik secara otomatis maupun melalui otorisasi terlebih dahulu dari orang yang bersangkutan. Dengan fasilitas ini, handset Motorolla Tia yang memiliki fitur GPS, dapat mengirimkan data coordinat ke smarphone orangtuanya yang terintegrasi dengan fitur Geograpic Infromation System (GIS) sehingga orangtuanya dapat mengetahui keberadaan anaknya yang tengah pergi di malam hari. GIS tersebut memiliki fitur menu yang dapat di browsing berdasarkan nama tempat dan jalanan. Dengan fitur ini maka lokasi Tia dapat diketahui secara pasti beserta nama jalan dan tempat Tia berada. Selain itu, urusan mencari taksi bagi Tia di malam hari juga menjadi lebih mudah, karena para taksi sudah dilengkapi dengan GPS dan terkoneksi melalui Location Based Service yang memungkinkan seseorang dapat mengetahui keberadaan taxi disekitarnya serta mengirimkan kordinat lokasinya ke taxi tersebut sebagai konfirmasi panggilan. Bagi Tia, ini merupakan sistem keamanan baru 24 jam yang memungkinkan dia dapat pergi dengan rasa aman. Dan yang terpenting tidak lagi membuat was-was orangtuanya karena jarak tidak lagi menjadi batasan dengan adanya video phone dan location based service dari 3G.
Rasionalitas Vs Emosionalitas
Melihat peran aplikasi 3G seperti yang diilustrasikan diatas, akan selalu menimbulkan pertanyaan, seberapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah kebersamaan secara virtual seperti itu? Apalagi di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang semakin sulit, daya beli yang semakin lemah, dan tingginya harga BBM. Sehingga terkesan bahwa teknologi ini belum tentu untuk semua segment keluarga. Namun, orangtua sehat manapun akan memiliki pandangan yang relatif sama, kita bekerja demi anak, dan anak butuh orang tuanya. Bukankah secara faktualnya inkonsistensi dari emosionalitas orangtua terhadap anak seringkali mengalahkan hitung-hitungan rasionalitas? Apakah kita harus menempatkan sebuah hubungan yang harmonis dan masa depan anak-anak kita pada resiko kehancuran karakter bila disaat bersamaan ada cara baru untuk dapat tetap membangun sebuah kebersamaan yang lebih efektif dan efisien – Video on Call.

Paradigma Baru Berkomunikasi
Teknologi telekomunikasi dewasa ini adalah sesuatu yang transformatif, dan perusahan telekomunikasi adalah cultural change agent-nya. Amerika, menjadi Amerika yang berbeda setelah penemuan telegraph. Dunia, menjadi dunia yang berbeda setelah televisi. Dan sekarang, dunia akan kembali berbeda setelah munculnya teknologi selular, dengan hadirnya teknologi 3G.
Disinilah letak kekuatan sebenarnya dari industri telekomunikasi, dimana tidak hanya sebatas business risk taker, namun juga menjelma menjadi sebuah cultural risk taker. Suatu simple invention yang dilakukan oleh ProXL dan perusahaan lainnya untuk dunia telekomunikasi di Indonesia hari ini, pada nantinya akan membawa dampak besar bagi kehidupan ratusan juta penduduk di negeri ini secara global. Membuat suatu perubahan kultur kehidupan yang lebih kondunsif dan positif ditanah air ini dalam beberapa tahun mendatang. Juga disinilah tantangan bagi para pelaku telekomunikasi di Indonesia untuk dapat berfikir out of the box agar dapat merubah mindset masyarakat untuk mulai berfikir secara “mobile”, bukan menit!
Karena saat kita mengganti teknologi kawat dengan wireless, sepatutnya tidak lupa untuk turut mengganti paradigma berkomunikasi di masyarakat-nya juga agar sesuai dengan aliran teknologi yang dianut. Disinilah letak missing point permasalahan utama-nya pada implementasi 3G. Bukan pada handsetnya, varietasnya maupun teknologinya, namun mindset pemakainya.
3G sekali lagi bukanlah semata menjadi pengganti sarana telekomunikasi telepon rumah maupun selular yang ada sekarang ini, karena letak kemampuan potensial sebenarnya dari 3G adalah pada “mobility” dan “immediacy”, hal yang belum dimiliki oleh teknologi komunikasi 2G maupun 2,5G seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Komunikasi secara mobile dan immediate tidak berarti hanya sebatas kita berkomunikasi kapanpun atau dimanapun, namun lebih luas dari itu, mobility dan immediacy berarti bahwa kita dapat merespon secepatnya saat itu juga dalam kaitannya dengan bentuk berkomunikasi, dimanapun dan kapanpun saat diinginkan. Dengan kata lain, ini adalah Interaksi. Komunikasi yang tidak lagi berupa monolog, namun berubah menjadi “dialog” serta lebih kaya akan interaksi.
Kini sudah saatnya para operator-operator telekomunikasi mulai bertindak sebagai cultural change agent dan membawa masyarakat menuju suatu kehidupan yang bernama “mobile”. Dan suka atau tidak, interaksi secara mobile akan mendominasi dalam keseharian hidup masyarakat kita di tahun-tahun mendatang, bukan dekade. Ambil saja contoh, akal sehat kita mungkin mengatakan Oral culture masyarakat kita dari tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an saat sudah diperkenalkannya teknologi selular, memang bentuknya adalah bicara, sesederhana itu. Namun dengan mulai diminatinya SMS sebagai alternatif komunikasi selular yang berbiaya murah beberapa tahun belakangan ini, diluar dugaan dalam waktu singkat ternyata mampu membawa perubahan besar. Tidak hanya semakin tumbuhnya market share layanan GSM namun juga pada budaya bertelekomunikasi masyarakat dari “speaking” menjadi “texting” walaupun ini juga merupakan bentuk lain komunikasi. Dan dengan adanya 3G diharapkan dapat kembali terjadi shifting dari “texting” menuju “Mobile interacting”. Disitulah letak critical succes factor bagi keberhasilan implementasi teknologi 3G di Indonesia, yaitu bagaimana merubah paradigma berkomunikasinya terlebih dahulu. Karena sebuah service provider sudah seharusnya lebih banyak bicara akan “Asiknya!” berkomunikasi, bukan canggihnya teknologi.
Pada nantinya dampak dari teknologi 3G ini sudah diprediksi akan menyebabkan terjadinya suatu transformasi dalam budaya berkomunikasi di masyarakat menuju ke suatu taraf kehidupan digital lifesytle dan digital workstyle yang sebenarnya. Dan wujud kemajuan suatu bangsa juga turut diukur dari bagaimana cara bangsa itu berkomunikasi.@

One comment

  1. hatur nuhun….
    syukron



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: