h1

Disaat Hidup Begitu Membosankan

September 21, 2006

dsc_1431.jpg

Setiap pagi jam setengah 9, adalah waktu saya berangkat kerja. ditengah kemacetan jalan didepan roxy mas yang sangat semrawut, saya suka melihat-lihat kesekeliling dari dalam jendela mobil. Jalan tersebut adalah sebuah jembatan yang berdiri diatas kali banjir kanal. setiap paginya banyak pedagang-pedagang maupun orang-orang yang melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang hanya duduk-duduk merokok dengan pandangan nanar. Ada yang sibuk mengurusi lapak dagangannya nya ditengah tebalnya asap kendaraan dan ramainya orang. maupun para polisi cepek yang tengah beraksi. 
dsc_1498.jpg
banyak ekspresi disetiap 2 meter pandangan. terkadang saya suka bertanya didalam hati, seperti apa kehidupan mereka? apakah begitu beratnya hidup hingga mampu meninggalkan bekas pada guratan2 wajah mereka. wajah penuh dengan perjuangan dan kepapaan.

Pemandangan setiap hari yang saya lalui disepanjang jalan Roxy mas, terkadang mampu membuat air mata terjatuh. melihat bagaimana seorang ibu sambil menggendong anaknya yang masih bayi tidak mempedulikan polusi asap knalpot kendaraan dan hiruk pikuknya jalanan. dilapak seluas satu meter persegi ditepi jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan, sang ibu seakan terlupa sudah dengan sibuknya mengatur lapak dagangannya yang saya sendiri jujur berkata, mana ada yang mau beli baju dan celana bekas seperti itu? malah kelihatan belum dicuci lagi.
dsc_1502.jpg
setidaknya itu dari sudut pandang saya dari seseorang pengamat yang duduk nyaman di dalam mobil sambil menikmati merdunya alunan musik. tapi mungkin kita tidak menyadari, baju bekas itu lah yang menghidupi mereka hingga saat ini. baju bekas itulah yang membuat ibunya tetap dapat menyusuinya bayinya. sebuah baju bekas yang mampu menimbulkan bekas guratan kehidupan diwajah sang ibu. Sebuah baju bekas yang bahkan menjadi lebih berharga dari seorang manusia, suaminya.

Dari sisi kita sebagai orang yang mungkin berasal dari ekonomi berkecukupan, tetap tidak bisa masuk akal sehat saya. bagaimana mungkin seorang bapak dapat tega meninggalkan istrinya dan anaknya yang masih kecil itu untuk mengurus lapak seorang diri dipinggir jalan yang sarat dengan polusi asap kendaraan? Lalu, dimana adilnya Tuhan? Mengapa Tuhan menciptakan kemiskinan bila Tuhan adalah Maha Kaya? Mengapa harus ada kaya dan miskin, senang dan Sedih dikehidupan ini? tidak bisa kah kita hanya diberikan hidup kaya dan senang saja semuanya? toh tidak akan mengurangi kekayaan Tuhan yang Maha Kaya itu? apa dosa anak yang lahir dari rahim ibu tersebut hingga mendapat kehidupan yang sangat berat seperti itu. sungguh tidak terbayang bagi saya bila memiliki kehidupan seperti itu.

Namun tidak mungkin juga semuanya diciptakan sebagai direktur. lalu siapa yang akan menanam padi? Tidak mungkin juga semuanya diberikan kekayaan berlimpah, lalu bagaimana kita bersedekah? Hidup ini adalah sebuah misteri bagi yang tidak mengerti agama. tapi sebuah pelajaran dan peringatan bagi yang membaca kitab-Nya. Tidak mungkin ada akibat tanpa sebab. dari pandangan mata kita manusia biasa, mereka hanyalah seorang ibu dan bayinya yang tidak beruntung hidupnya, terlahir sebagai orang miskin. tapi mungkin dibelakang semua itu ada penyebab yang membuat Allah menetapkan sebuah kehidupan seperti itu kepada mereka. entah apa, tapi saya yakin ada penyebab dan maksudnya. seperti bila kita mendengar bayi yang terlahir cacat, secara akal sehat memang itu adalah ketetapan Allah. namun ada hal-hal yang kita tidak ketahui bahwa mungkin orang tuanya memasuki ketetapan sunnah-sunnah Allah (contoh: air dimasak akan mendidih) hingga menyebabkan bayinya terlahir cacat. Kita tidak tahu.

Albert Einsten pernah berkata pada dosennya ketika dia ditanya apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Dia menjawab, layaknya apakah gelap itu ada hanyalah sebuah manifestasi dari tiadanya cahaya. dan diberikan nama gelap karena kita tidak mampu mengukur panjangnya gelombang warna pada cahaya dan intesitas nya saat keadaan gelap. sama dengan kejahatan, apa yang tampak dimata untuk kehidupan ibu dan anak tersebut mungkin bisa membuat kita berfikiran bahwa Tuhan telah jahat pada kita. Namun apa mungkin lebih baik kita sadari bahwa kehidupan seperti itu mereka miliki dikarenakan oleh tidak adanya Tuhan dalam hati mereka sejak lama?

Dan sungguh itu merupakan sebuah contoh kehidupan yang diperlihatkan oleh Allah Swt untuk setiap hambanya. Suka atau tidak Allah memiliki ketetapannya sendiri untuk masing-masing kehidupan. Yang diberikan sesuai dengan tingkat ketaqwaan mereka. ambil saja contoh, mana ada pastur atau dai yang semiskin-miskinya menurut ukuran kita menderita seperti ibu itu. setidaknya mereka memiliki kehidupan yang lebih terhormat walaupun hanya berkecukupan. Semuanya dihadirkan ke dalam kehidupan manusia dengan satu maksud, yaitu agar manusia bersyukur dan bertaqwa. Sebagai tanda kebesaran Dia sang Maha Pencipta kehidupan. Bahwa ada kehidupan yang lebih berat, daripada sekedar “membosankan”.

dsc_1442.jpg

5 comments

  1. APa beda nasib dan takdir ?


  2. hmm.. nasib karena kita sebabnya, takdir sudah diputuskan.


  3. mudahéan dengan ibadah yang khusyuk dan ikhlas karena Allah – takdir bisa berubah menjadi yang barokah.. Kekuatan doa dan ketakwaan hamba bisa merubah takdir jelek menjadi sebaliknya🙂

    Seneng bisa mampir kesini, salam kenal dari afrika barat


  4. life is all about yin and yang! Black and white, Young and Old, Rich and Poor.
    Everything needs balance in life and Reality bites! That’s a part of being human.
    [duuuhhh gw sok bangettttt ngomongnyaaaaa]


  5. Ini pendapat saya secara pribadi, tidak ada yang namanya nasib atau takdir di dunia.

    Meski senada dengan Nien di atas, saya tidak bisa mengatakan bahwa Tuhan tidak exist, ada dunia nyata maka ada juga yang tidak nyata.

    Kembali lagi ke nasib / takdir tadi, pribadi kita sendiri yang menentukan arah jalan kita di dunia, bukan Tuhan ato yang lain.

    Tuhan hanya memberi rambu2 yang harus dipatuhi bila ingin selamat, seperti trafic light, kalo lampu merah menyala ya berhenti, tapi toh kita tetap bisa ambil keputusan untuk terus melaju, meskipun resiko tanggung sendiri.

    Itu yang menurut saya secara pribadi tentang hubungan Tuhan dan Manusia.
    ada orang yang sangat fanatik dengan agama, sampai2 semuanya dihubungkan dengan Tuhan, menurut ku orang2 seperti ini berpikiran sempit, bukan religius.

    kita bisa mambahas ni sepanjang malam tanpa kesimpulan, so the point i’d like to share is : lebih baik kita memberatkan diri ke Humanisme dari pada Tuhanisme.

    daripada berdoa memohon, lebih baik gunakan karunia akalmu untuk melakukan sesuatu yang nyata.

    Keep up the good Blog!!



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: