Archive for March, 2007

h1

"The Pursuit of Happyness"

March 22, 2007

Sebuah Kisah nyata perjalanan seorang Ayah dan anaknya dalam menempuh pahit getirnya kehidupan hingga akhirnya hidup berkecukupan sebagai multimillionaire stockbroker di pasar saham. berkat kesabaran dan kegigihan hati seseorang Ayah demi kebahagiaan anaknya yang akhirnya menjadi sumber kekuatan tersendiri diluar batas yang mungkin dapat dibayangkan.

Film yang mengisahkan kehidupan sebenarnya dari seorang Christopher Gardner, seorang tuna wisma dan single parents yang berjuang dalam hidup bersama anaknya hingga berhasil menjadi jutawan dan CEO sebuah perusahaan stockbroker ternama di Amerika yaitu Christopher Gardner International Holdings dengan kantor yang kini tersebar di New York, Chicago, and San Francisco. Dari seorang yang miskin hingga menjadi jutawan, pastilah sebuah kisah yang sudah pasti akan mengundang rasa kagum dan menarik untuk kita ketahui. Sebuah moment yang yang mampu menyentuh emosional terdalam dan bersatu dalam sebuah konteks kehidupan spritual akan sebuah arti kehidupan itu sendiri.

Film ini secara tiba-tiba mengingatkan saya akan suatu moment dengan bekas atasan saya dahulu. Dalam suatu perjalan saya bersama Pak Thamrin (former : Dirut PT Pembangunan Pluit Jaya) mengatakan kepada saya

“Setiap orang pasti akan melewati satu point dimana dia akan menuju terus kebagian paling dasar dari hidupnya. Dan melewati satu point lagi yang akan selalu menuju bagian teratas dari hidupnya. Tapi kita hanya tidak tahu kapan dan dimana point tersebut berada.. Jadi jeli-jeli San lah dalam melihat hidup ini… karena hanya akan ada satu point yang anda akan lewati.. jangan pernah pernah menyerah maupun lupa diri saat melewati cek point anda!”

Kata-kata tersebut masih saya ingat hingga saat ini. Selama hidup saya, tidak pernah absen sekalipun saya bertanya dalam hati. Atau sekadar memflasback dan memperhatikan, did I miss my checkpoint? Where that moment which gonna change my life forever? Kebiasaan yang seakan menjadi imsonia bagi saya setiap kali merenung dan membayangkan seperti apa kehidupan saya di 10 tahun mendatang?

Mungkin ada sedikit kemiripan dengan pesan yang berusaha disampaikan oleh Chris Gardner dalam film ini. Dimana dalam suatu kesempatan di film tersebut, Chistoper’s Son yang diperankan oleh anak Will Smith sendiri menceritakan sebuah kisah lucu :

“There was a man who was drowning, and a boat came, and the man on the boat said “Do you need help?” and the man said “God will save me”. Then another boat came and he tried to help him, but he said “God will save me”, then he drowned and went to Heaven. Then the man told God, “God, why didn’t you save me?” and God said “I sent you two boats, you dummy!”

Intinya adalah Tuhan biasanya mendatangkan bantuan lewat cara-cara yang terkadang kita sendiri tidak mengetahui bahwa itu adalah bantuan. Karena bentuknya yang tidak berupa mukzizat secara langsung dan kasat mata. Tapi hanya bisa kita pahami pada saat kita memandang kebelakang hidup kita suatu saat. Sama halnya dengan Check point yang bekas atasan saya katakan. Perlu suatu kesadaran diri dan kejelian dalam melihatnya.

Turning point dalam hidup seseorang seringkali terjadi di waktu dan tempat yang kita tak pernah bayangkan. Ada saatnya kita memasuki turning point yang membawa kehidupan kita kebawah. Sama halnya yang diawali oleh Gardner. Turning point ke bawah ini berawal saat dia memutuskan untuk menjadi seorang salesman Bone Density scanner dan menginvestasikan tabungan keluarganya untuk membeli beberapa alat ini sebagai stock untuk dijual kembali secara exclusive ke medical centre di San Fransisco. Namun ditengah terpuruknya kondisi ekonomi Amerika saat itu, membuat Gardner kesulitan untuk menjual barang tersebut sebagai kompensasi untuk menutup biaya hidup mereka. Tekanan hidup dirasa semakin berat oleh keluarga Gardner, karena langkah Gardner tersebut ternyata membuat kondisi keuangan keluarga menjadi tidak stabil dan sulit. Istrinya pun mengalami kelelahan baik lahir maupun bathin karena harus bekerja double shift untuk menutupi kebutuhan rumah tangga, sehingga bayangan akan masa depan yang diharapkan diawal pernikahan seakan menjadi jauh dari jangkauan. Rasa putus asa dan lelah jiwa membuat dirinya cepat meledak-ledak dan skeptis terhadap kemampuan suaminya.

Sedangkan Christopher Gradner, yang lahir pada 9 february di Milwauke tanpa pernah melihat siapa ayahnya terlahir untuk memiliki mimpi sendiri yang dia rasakan lebih penting bagi dirinya daripada hanya menjual scanner. Kehidupan keras yang dia rasakan bersama ibunya telah menempa dirinya hingga memiliki suatu “spiritual genetic” tersendiri dan mengajarkan dia suatu pelajaran berharga dalam hidup, yang tetap dia pegang hingga kini. Dia ingin menjadi seorang ayah yang dia tidak pernah miliki. Dan hal tersebut dia dedikasikan ke anaknya melaui kesabaran yang tiada batas serta kesatuan emosi dengan anaknya. Dan saat istrinya memutuskan untuk meninggalkan dia karena tidak tahan lagi akan tekanan hidup yang dimiliki, semuanya mulai berubah. Chris harus rela kehilangan mobil dan apartmentnya. Namun dia tetap bersikukuh untuk tetap dapat bersama anaknya, karena dia telah membuat keputusan dimasa kecilnya, saat dia memiliki anak nanti, dia tidak ingin anaknya tidak tahu siapa bapaknya seperti dirinya. Walaupun akhirinya, istrinya tetap meninggalkan mereka.

Saat melihat hal tersebut, hati saya seakan ikut teriris dan sedikit mengeluarkan air mata. Terlebih saat adegan dimana Chris dan anaknya harus hidup homeless dan terpaksa tidur di kamar mandi umum. Dengan air mata berlinang sambil menatap anaknya, satu tangan diberikan sebagai bantal untuk anaknya agar dapat tetap tidur nyenyak dan satu tangan lagi dikerahkan untuk menahan pintu yang tengah ingin dibuka oleh seseorang dari luar. Dia berusaha menghindari pemeriksaan petugas yang sedang memeriksa setiap malam. Wajah anaknya sudah kelelahan dan bila diusir dia tidak tahu harus tidur dimana. Sebagai orang tua, saya tahu benar apa rasanya saat itu. Karena tidak ada yang lebih menakutkan dari pada sebuah perasaan tidak berdaya untuk dapat memberikan yang terbaik untuk anak anda!

Sebagai instantnya, turning point kedua dalam hidup Gardner dan pekerjaannya terjadi diparkiran sebuah gedung. Pada saat dia memandang ke arah salah satu gedung yang berdiri megah di San Fransisko, dia melihat begitu banyak muka-muka bahagia yang keluar dari gedung tersebut. Sebuah ekspresi yang rasanya menjadi sesuatu yang mewah bagi dirinya disaat itu. Dan tiba-tiba dia melihat seseorang tengah keluar dari sebuah Mobil Ferrari yang diparkir tepat disebelahnya. Decak kagum Gardner bukanlah pada mobil tersebut, namun bagaimana orang itu mendapatkannya. Dia bertanya “Wow, I gotta ask you two questions. What do you do? And how do you do that? Sebuah moment yang hingga akhirnya menjadikan pria ini seorang stockbroker dengan penghasilan USD 80.000 per bulan.

The Pursuit of happiness adalah salah satu film yang layak anda tonton. Banyak pelajaran hidup yang dapat diambil didalamnya. Menceritakan bagaimana sebuah kerja keras dan devotion seorang ayah terhadap anaknya membawa kebahagiaan pada akhirnya. Kita tidak tahu betapa mewahnya sebuah pertolongan bila kita tidak pernah kesulitan. Dan betapa indahnya kebahagiaan, bila tidak pernah merasakan penderitaan. Salah satu pelajaran hidup yang priceless.

Mungkin yang perlu kita pertanyakan dari kisah tersebut adalah bagaimana kita mengartikan sebuah kebahagiaan. Bukan hasil pencapaiannya, namun prosesnya. Karena Seorang milyuner seperti Gardner sekalipun pernah membuat keluarganya kelaparan. Pernah mengalami derita yang tak terbayangkan. Sangat beda dari film-film yang selalu berisi anak seorang kaya yang kemudian menjadi lebih kaya lagi kemudian hidup bahagia. Ini adalah cerita nyata yang juga dialami oleh ratusan juta orang di muka bumi. Apa yang dapat kita pelajari dari Chris Gardner dalam meraih kesuksesannya? Mempertahankan keluarganya? Apakah takdir yang menemukan kita ataukah kerja keras dan kesabaran yang membawa kita menuju takdir kita? Satu hal mungkin yang harus kita ingat sebagai pelajaran, kita tidak pernah tahu apa yang orang lain telah lalui ketika kita membentuk ekspektasi kita.

h1

Bibit Unggul Bangsa Jepang Sehari-hari

March 21, 2007

Mulai petugas pencatat meter listrik, pedagang pasar hingga staf supermarket di jepang semuanya mempunyai kinerja yang luar biasa.

Seorang mahasiswa dijepang menceritakan pengalaman selama menjadi pelajar asing disana. Sebagai mahasiswa yang berstatus berkeluarga suatu hari sempat terkaget-kaget ketika melihat tagihan listriknya melonjak 10 kali lipat. Setelah mengajukan penyusutan sederhana, maka diketahuilah bahwa ternyata terjadi kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas – sebuah kesalahan yang tidak umum terjadi dijepang. Segeralah dia menelpon perusahaan listrik wilayah Kansai daerah tempat dia tinggal untuk menginformasikan kesalahan tersebut.

Berkali-kali kata sumimase (maaf) terlontar dari mulut operator telepon perusahaan listrik tersebut. Mahasiswa Indonesia itu menganggapnya sudah selesai karena operator tersebut berjanji untuk segara melakukan tindak lanjut. Belum beberapa lama meletakkan tasnya di bangku sekolah pagi itu, istrinya yang tinggal dirumah menelpon untuk memberitahu perihal adanya kedatangan dari petugas listrik yang datang meminta maaf dan menarik slip tagihan.

Setibanya dirumah pada malam harinya, mahasiswa tersebut baru tahu kalau yang datang bukan lah sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya), namun setingkat supervisor. Terlebih lagi, bingkisan berisi sabun dan sampo merek terkenal sudah pasti menandakan bahwa kedatangan supervisor itu lebih dari sekadar meminta maaf.

Si mahasiswa bukannya terenyuh atas pemberian tersebut, namun justru khawatir kalau-kalau petugas tersebut akan bunuh diri sepulangnya dari sini. Karena kekeliruan dalam bekerja secara umumnya dijepang menyangkut sebuah kehormatan diri seseorang. Seakan-akan menjadi suatu agama tersendiri bagi mereka.

Suatu kali juga pernah, saat akan membeli buah2an dengan harga banderol murah yang merupakan favorit bagi para mahasiswa-mahasiswa perantauan disana, memang biasanya terdapat sedikit cacat (goresan atau benturan) pada permukaan buah-buahan – sesuai dengan harga murah yang dibayarkan.

Pada saat hendak membayar buah tersebut, penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjukkan kondisi sedikit cacat pada beberapa buah-buahan tersebut dan kembali memastikan niat orang yang akan membelinya. Memang cukup mengherankan, bukannya kita tidak mengetahui cacat tersebut namun kejujuran yang begitu tulus masih dimiliki oleh seorang pedagang kaki lima sekalipun. Pemikiran bahwa kejujuran adalah syarat utama keberhasilan dalam berdagang adalah hal umum yang dimiliki oleh kebanyakan pedagang di sana. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Sama halnya ketika anda berbelanja di supermarket. Anda akan menerima uang kembalian anda hingga ke yen terakhir sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak ada “pemaksaan” untuk menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. selain kagum dengan praktek berdagang yang baik ini, saya juga sekaligus kagum dengan sistem perbankan jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual otomatis) di seantero jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat sepele, ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual beli.

Belum lagi keramahan para petugas supermarketnya. Bila anda menanyakan letak suatu barang, maka petugas tidak akan hanya kan menunjukkan lokasi barang tersebut seperti para pegawai Carefure, namun juga mengantarkan hingga berjumpa dengan barang yang dimaksud dan baru akan meninggalkan kita setelah memastikan semuanya sudah beres dimata pelanggan. Namun bukan berarti petugas supermarket di Jepang begitu banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan melayani pelanggan. Justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai kebutuhan dan mereka selalu bergerak seperti semut.

Disebuah toko elektronik seorang petugas yang menjelaskan spesifikasi komputer sekaligus merangkap sebagai kasir tempat membayar sekaligus juga petugas pengepakan terakhir terhadap barang yang dibeli. Dan yang penting, anda tidak perlu khawatir ditipu seperti halnya membeli barang elektronik di glodok. Tidak akan anda melihat seseorang ketika membeli sebuah barang dijepang akan memperhatikan dengan teliti karena takut membeli barang busuk layaknya membeli barang dijakarta yang kalau sudah dibeli tidak bisa dikembalikan. Disana pelanggan membeli dengan perasaan aman karena semua hal baik dan buruknya akan dijelaskan diawal oleh pedagangnya dan sesuai dengan harga yang dibayarkan.