Archive for December, 2006

h1

Terperangkat Involusi Tak Berkesudahan

December 11, 2006

Stigma bangsa yang malas, suka gontok-gontokkan, mau serba instan, suka main terabas, senang menusuk dari belakang, tidak disiplin, tidak efisien, etos kerja memble, tak mampu berkolaborasi, sudah lemaa dilekatkan pada kita. Ternyata kita belum juga beranjak dari situ.

    Semua karakteristik minor dan inferior itu masih disebut sebagai penyebab stagnan dan penghambat bagi kemajuan ekonomi dalam kuliah umum michael porter beberapa waktu lalu.

    Kritik porter kira-kira senada dengan kritik pofersor paul krugman dari stanford university, dahulu. menurutnya pertumbuhan ekonomi pesat indonesia pada dekade 1990-an atau sebelum krisis tahun 1997 lebih banyak disebabkan oleh perasan keringat, bukan otak.

    Alasannya, pertumbuhan pesat diatas 7 % terjadi karena penambahan input berupa akumulasi modal dan tenaga kerja, dan bukannya peningkatan output per satuan waktu. kemajuan teknologi seperti dialami negara-negara maju tidak terjadi.

    Penggunaan input yang berlebihan tidak dibarengi dengan kenaikan output per satuan input ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi tinggi yang terjadi tidak akan bertahan lama.

    Berdasarkan kajian indikator produktifitas dan daya saing yang dilakukan The Asian Productivity Organization (APO), Indonesia memang menunjukkan tingkat pertumbuhan produktifitas modal dan tingkat pertumbuhan tenaga kerja yang terus menurun.

    Kritik ini tidak hanya untuk indonesia, namun juga kepada negara-negara macan asia yang karena pertumbuhan ekonominya dianggap sebagai “keajaiban asia”. Yang menjadi pertanyaan, kenapa hanya kita yang masih jalan ditempat? kenapa banyak negara-negara yang berangkat bersamaan atau bahkan lebih belakangan di bandingkan kita, kini malah jauh meninggalkan kita? contoh paling gampang adalah vietnam, korea, china, korsel, dan india, dalam indeks pembangunan manusia, tingkat daya saing dan juga tingkat perkembangan ekonomi.

    Banyak kalangan sosiolog dan antropolog mengaitkan ketertinggalan ini dengan aspek sosiologis kultural, seperti karakteristik masyarakat kita yang malas, tidak menghargai waktu, narima ing pandum, fatalistik dan paternalistik. masyarakat yang dimanjakan oleh iklim yang subur makmur (yang menyediakan semua) menjadi malas dan tidak memiliki motivasi kuat untuk maju.

    Beberapa yang lain menuding sistem pendidikan yang dinilai tidak merangsang kreatifitas berpikir anak didik, tetapi justru membunuhnya. anak tidak diajarkan untuk bebas menyampaikan gagasan dan pikiran, dan kreatifitas tidak ada dalam kurikulum pendidikan nasional.

    Faktor kekerabatan, yang membuat kita berpaling dari keluarga besar setiap ada masalah juga ikut berperan dalam membentuk karakteristik masyarakat kita sekarang.

    ”Dalam sistem kekerabatan yang dulu berlaku, seorang bukan dirinya sendiri, tetapi bagian dari sistem kekerabatan tersebut. ia bukan orang yang bebas dalam arti bisa melakukan sesuatu sekehendak hatinya tanpa persetujuan dari sistem kekerabatannya, lingkungannya atau keluarganya. jika suatu saat ikatan kolektifitas ini longgar dan dia harus jadi dirinya sendiri, disilah akan muncul masalah,”papar antropolog UI achmad fedyani saifuddin.

    Meskipun demikian, menurut achmad sosiolog dari UI tidak sependapat bila masyarakt kita disebut malas. menurut mereka, tidak adil membandingkan begitu saja masyarakat kita dengan bangsa lain, mengingat kompleksitas persoalan yang berbeda dan konsep pemikiran tentang segala sesuatu, termasuk konsep mengenai kerja yang juga berbeda.

    Indonesia memiliki jumlah penduduk yang jauh lebih luas, budaya yang jauh lebih beragam. oleh karena itu mengelola indonesia juga jauh lebih sulit dibandingkan dengan korea selatan atau jepang yang masyarakatnya relatif homogen, maupun singapore yang wilayahnya hanya kecil.

    Imam mengambarkan Indonesia sebagai multination state karena lebih dari 50 kerajaan dengan latar belakang sejarah dan pemerintahan sendiri bergabung menjadi satu.

    Untuk mengelola negara seperti ini diperlukan suatu kepemimpinan yang sangat kuat. padahal pada saat yang bersamaan negara ini juga sedang bereksperimen dengan demokrasi, dan struktur demokrasi itu sendiri belum kuat.

    Oleh karena itu, bisa dipahami proses nation building yang terjadi juga ibarat merangkak. kemampuan managerial para pemimpin sendiri terdistorsi akibat sistem sentralistik yang diterapkan oleh rezim orde baru dengan bureaucratic polity (otoreterianisme yang ditopang birokrasi). belum tuntasnya proses nation building ini memunculkan kekacauan dan ibaratnya kini kita harus memulai lagi dari awal. Birokrasi berjalan seperti kura-kura, sehingga justru jadi penghambat. oleh karena itu, yang diperlukan adalah kepemimpinan kolektif dan reformasi birokrasi. Bahkan mungkin suksesi.

Involusi Budaya
    Menurut achmad, bangsa lain bisa kompetitif dan maju karena memang mereka punya keunggulan dan mampu memanfaatkan dengan baik keunggulan tersebut. Jepang dan jerman misalnya dibidang ekonomi dan teknologi. masyarakat seperti amerika serikat sangat bangga dengan keamerikaanya.

    Untuk bisa bersaing, indonesia harus mengembangkan keunggulan atau budaya unggul berasarkan potensi yang dimiliki. achmat sendiri pesimistis indoensia bisa barsaing selama masih tergantung pada utang dan kesenjangan ekonomi dalam masayarat seperti sekarang.

    Achmad juga melihat pentingnya perekat baru untuk mencegah berkembanganya lebih jauh karakteristik bangsa yang cenderung gontok2an dan suka main terabas. perekat baru itu bisa dibangung melalui institusi pendidikan.

    Pendidikan bisa menjadi tempat untuk menggodok atau menularkan nilai-nilai baru yang berorientasi pada kemajuan. pendidikan juga perlu menekankan pada kurikulum yang mengarah ke perubahan tingkah laku, bukan hanya pengetahuan kognitif. achmad juga melihat perlunya integrasi kebudayaan yang lebih luas dari sekardar integrasi sosial yang hanya dipermukaan. dikalangan para pelaku ekonomi achmad melihat masih menonjolnya proses saling merusak antar elemen dan tidak adanya etika etika bisnis yang sehat.

    Birokrasi yang dikeluhkan pengusaha sebagai sumber penyebab tidak kompetitifnya mereka dalam persaingan di pasar global adalah suatu proses yang saling terkait (interrelated) KKN yang terjadi antara birokrat-pengusaha tidak mungkin terjadi tanpa keterlibatan dua belah pihak.

    Proses saling merusak yang tidak sehat lagi tercermin antara ruwetnya jaringan talitemali KKN ini. pengusaha yang sudah masuk ke situ tidak akan bisa keluar. bila dia mencoba untuk idealis sedikit saja, akan terlempar keluar atau dihambat lajunya.
    
    ”Kita ini seperti orang yang berputar-putar didalam. Subk dengan persoalan-persoalan internal sementara desakan dunia global semakin keras. Thesis clifford Geertz soal involusi atau bagi-bagi kemunduran tidak bergerak maju masih terjadi,” ungkap achmad.

    Hal serupa terjadi untuk produktifitas pekerja yang selama ini juga dituding pengusaha sebagai penyebab tidak bisa bersaingnya mereka. menurut achmad, tidak adil menuntut pekerja meningkatkan produktifitas nasional suatu negara, sementara kesejahteraan tidak diperbaiki.

    Sejumlah kalangan lain melihat, persoalan produktifitas nasional suatu negara tidak bisa dilepaskan dari pendekatan kebijakan yang ditempuh dan situasi yand dihadapi yang juga berbeda. salah satu persoalan indonesia sejak lama adalah tidak disipliin dan cepat berpuas diri, sehingga sebagai bangsa yang berdaulat kita pernah kehilangan kedaulatan, sehingga perlu disiplinkan oleh kekuatan luar seperti IMF atau bank dunia.

    Bangsa ini juga tidak pernah belajar dari kesalahan. padahal negara-negara maju pun bahkan masih merasa perlu untuk belajar dari keberhasilan negara lain atau pesaing mereka. contohnya yang dilakukan oleh perusahaan AS yang belajar dari kekalahan jepang dalam persaingan pada era 1980-an dengan mengadopsi management inventory just in time dan teknik lain dari jepang dan menjadikan itu sebagai keunggulannya sendiri. demikian juga eropa dipaksa belajar dari ketinggalannya dari AS dengan membenahi pasar kerjaan yang terlalu banyak diatar (overregulated)

    Upaya meningkatkan efisiensi dan efektifitas, baik di tingkat makro maupun mikro-menurut mantan perekonomian dorojatun kuntjoro dalam salah satu pertemuan-tidak bisa terjadi tanpa adanya dukungan kebijakan, program, dan kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan produktifitas dan daya saing jangka panjang.

    Untuk ini diperlukan penguatan kelembagaan. dalam konteks globalisasi, menurut dia, produktifitas tidak hanya menyangkut mental atau budaya dan konsep mengenai kerjaan, tetapi juga pemahaman atau penguasaan terhadap pengetahuan dan teknologi informasi.
    
    Dalam konteks globalisasi, konsep produktifitas itu sangat dinamis dan tidak statis. konsep pembagian waktu atau kerja yang dulu dianggap cukup tidak lagi mampu mengejar tuntutan globalisasi, yang ditandai oleh semakin sengitnya persaingan, liberalisasi, dan semakin shopishicatednya pasar, semakin kompleksnya sistem produksi dan distribusi, serta meningkatnya kesadaran akan isu-isu sosial dan lingkungan.
    
    Kondisi ini tidak hanya menuntut kita melakukan adaptasi, tetapi juga mempersenjatai diri, mengolah potensi dan memosikan diri agar bisa menjadi pemenang dalam persaingan dan bukan hanya obyek bulan-bulanan dari globalisasi seperti sekarang.
    
    Kegagalan kita memanfaatkan momentem dan kelebihan yang dimiliki selama ini, anara lain, disebabkan karena kegagalan kita membenahi kondisi dalam negri. akibat nya kita terlalu sibuk bertikai sendiri, sehingga justru negara lain yang lebih bisa memanfaatkan.
    
    Kekalahan dalam persaingan memperebutkan pasar eksport, kalah dalam persaingan dengan pelaku asing diapsar dalam negeri sendiri, kalah dalam ajang laga olahraga dunia, dicurangi negara tetangga dalam perebutan wilayah, dijarah pasir dan kekayaan sumber daya kelautannya. dirampok hutan dan kekayaan alamnya., dijadikan tempat pembuangan limbah B3, berkali-kali ditipu oleh pembobol bank dan pengemplang hutang.
    
    Itu baru sebagian contoh. tempe kita dipatenkan dijepang, batik kita dipatenkan dimalaysia. membel jepara dikuasai asing. gemblong yang penganan jawa juga sekarang diproduksi dijepang, dan masih banyak lagi.
    
    Kegagalan mengelola negara itu pula yang menjelaskan mengapa indonesia yang kaya sumber daya alam, sumber mineral dan sumber daya manusia justru terperangkap dalam hutang dan hegemoni negara-negara lain dan lembaga multilateral.
    
    Ini sekaligus juga bisa menjawab mengapa dengan wilayah geografis yang subur dan luas seperti ini kita menjadi pengimport pangan terbesar dunia, mengapa dengan cadangan minyak dan berbagai sumber mineral penting ludes dan hutan gundel serta lingkungan rusak karena dieksploistasi berlebihan tetapi rakyat kita tetap miskin.
    
    Nilai-nilai positif seperti gotong royong pada masa lalu yang seharusnya bisa menjadi kekuatan dan modal kita untuk bersaing rontok; berganti gotong royong untuk merampok negara dan memperkaya diri sendiri atau kelompok. yang dipikirkan bagaimana berebut kue, bukan berpikir bagaimana membesarkan dulu kue agar menjadi besar.
    
    Hal ini mempertegas tesis proter, bahwa kita sudah kehilangan kemampuan berkolaborasi untuk menghadapi perasaingan dari luar. padahal bangsa dan negara ini dulu ada dan berdiri karena adanya kolaborasi tersebut.

Oleh Sri hartati Samhadi

h1

SUKSESI

December 11, 2006

“Leadership is rarely a solo ride”

Kata “suksesi” tentunya bukan lagi istilah yang asing dalam kosakata masyarakat awam. Lazimnya kata suksesi diterjemahkan sebagai tindakan mengganti pimpinan.
Pro dan kontra sering kali berkembang seputar sosok pengganti pimpinan yang lama. Apalagi jika sosok pimpinan itu tidak disertai kriteria yang jelas. Problem seperti ini pula yang sering menyertai persoalan suksesi di tubuh suatu perusahaan. Memang tipis batasannya di dalam prakteknya antara suksesi dengan revolusi. Sehingga budaya suksesi ini dirasa kurang tepat untuk kultur asia yang cenderung berbudaya “Ungah-Unguh” kalau kata orang jawa.
Budaya tiap-tiap perusahaan mengenai leadership memang berbeda-beda. Kebanyakan para perusahaan berfokus mengembangkan pimpinan hanya pada individu-individu pilihan saja, dan membiarkan individu sisanya untuk berkonsentrasi semata pada tugas-tugasnya. namun, di Unisy, sasaran perusahaan adalah bukan pada menciptakan 25 pemimpin, tetapi 2500 orang pemimpin! “Bila kita ingin memiliki kekuatan di lingkungan bisnis, kita harus berfokus pada pengembangan pemimpin”, demikian ucap CEO unisy.
    Pengalaman menunjukkan bahwa suksesi yang berfokus pada beberapa “bintang” perlu kita tinggalkan. kita lihat bahwa beberapa perusahaan raksasa di Indonesia yang usdah mencalonkan beberapa “putra mahkota” pilihannya, akhirnya perlu merekrut calon-claon beru sampai akhirnya menemukan pendobrak yang cocok. tentunya kita bisa bayangkan kerugian perusahaan ini dari segi kesempatan dan waktu yang sudah tersia-siakan.

    Saat suksesi tidak menjadi perhatian, bisa jadi atasan tanpa sadar “membunuh” kepemimpinan bawahan, misalanya saja melalui pelecehan psikologis, tidak memberikan kesempatan pada anak buah untuk menjadi berani dan mengambil resiko, atau tidak jelasnya wewenang, akuntabilitas dan tanggung jawab. Bisa kita lihat, ada kantor berisi bawahan yang kuran pede semua, karena tidak ditumbuhkannya “rasa” kepemimpinan sebagai semangat dalam organisasi.
    
    Dari Unisy, kita lihat bahwa perusahaan bukan saja menciptakan beberapa pemimpin, tetapi juga harus siap untuk berbudaya “pemimpin”. bisa jadi ada ungkapan sinis terhadap perusahaan ini “too many chief, no indians” terlalu banyak kepala, tidak ada buntutnya. namun, untungnya bagi perusahaan seperti unisy adalah mereka bisa terhindar dari riuh rendah gembar-gembor kurangnya pemimpin bagi organisasi, yang bolak-balik dikeluhkan banyak organisasi, bahkan juga oleh negara kita. perusahaan yang task oriented pada akhirnya akan mengalami kesulitan dalam menentukan dan membelikkan sasaran strategiknya dan beradaptasi. yang jelas, kita sebetulnya bisa mem”benchmark” lembaga-lembaga yang mempunyai keyakinan bahwa melalui kuatnya pertumbuhan kepemimpinan, perusahaan akan lebih produktif dan kreatif.

Perencanaan dari TOP
teknologi suksesi sebenarnya tidak bisa dipisahkan dari rencana strategik perusahaan. ada perusahaan yang sudah demikian nyamannya berada dalam confort zone sehingga menyerahkan teknologi suksesi ini pada manager SDM nya. padahal perusahaan seperti GE dan IBM memprioritaskan proyek ini pada board of directornya dan memperhatikan proses suskesi ini sampai tembus di level supervisor sekalipun. management puncak perlu terlibat pada sesi-sesi diskusi kalibrasi talenta yang perlu diadakan paling sedikit 6 bulan sekali. diskusi-diskusi seperti ini, tanpa disadari juga bisa meningkatkan rasa kompak, kerja tim, tumbuhnya saling percaya, bahkan “kemesraan” di antara management perusahaan.

Pendekatan “Work in Progress”
Mengisi sebuah jabatan dengan orang yang lebih junior sebenarnya sudah bertahun-tahun dilakukan dan sering mengalami kegagalan. terutama, bila kita sama-sama mengharapkan bawha si pemegang jabatan baru adalah seorang “superman” yang membawa terobosan -terobosan baru. sering tumbuh ungkapan sinis, “ternyata si bintang biasa-biasa saja tuh..”

bila kita memberi kesempatan kepada si anak muda untuk bertugas di jabatan baru maka lingkungan perlu melihat bagaimana orang tersebut sebagai bagian yang sedang dalam perbaikan. Ada peluang untuk perbaikan dan ada kondisi yang tidak sempurna untuk beberapa saat. ia pun perlu medapatkan mentoring dan coaching intensif dari pada seniornya untuk menjamin kesuksesan. Dengan demikian, bisa kita harapkan berkurangnya cara hengkang para calon bintang yang turnovernya sudah mencapai 30% lebih besar dibandingan dengan sepuluh tahun lalu.

Proyek-proyek “Ad-Hoc”
Pendekatan yang juga sudah dikenal dan mudah dilakukan adalah menugaskan keryawan bertalenta untuk menyelesaikan proyek-proyek ad hoc perusahaan, seperti pembenahan stock, pembuatan sistem IT untuk proses bisnis tertentu, ataupun perbaikan proses bisnisnya. dengan demikian perusahaan bisa menjaga fokus strategiknya, bisa berfokus pada kompetisi, sementara memberi kesempatan pada calon-calon pemimpin untuk mengambil resiko, mencari solusi dan berpikir strategik. kesempatan ini akan membuat potensi dalam organisasi lebih “terlihat”. para karyawan pun dapat lebih merasakan gairah dan dinamika perusahaan dan mempunya “rasa” atas pencapaian sasaran.

Karier Anda Tak Perlu Menunggu
Bahwa ada perusahaan yang tidak memikirkan suksesi memang perlu jadi pertimbangan tiap karyawan, apalagi bagi mereka yang berasa berenergi besar dan bertalenta kepemimpinan. Mengeluh dan bersikap apatis sampai kapan pun tidak akan membawa hasil. Hal yang bisa lakukan adalah membuat usulan yang “workable”, sehingga bila ide diterima dan kita yang disuruh mengerjakannya, kita sanggup mengerjakannya. upaya agar “terlihat” lagi-lagi adalah murni usaha si karyawan.