Archive for September, 2006

h1

Arti Sebuah Persahabatan

September 25, 2006

Beberapa hari belakangan ini sudah 2 kali saya bertemu teman lama saya, Diah. Pertama kali saya kenal Diah adalah saat dia masih bekerja di Kanzen Motor. Kantornya hanya berjarak beberapa meter dari kantor saya sekarang. Kehadiran Diah selalu indentik dengan ingatan saya kepada sekelompok pria dan wanita lucu serta tidak berakhlak mulia. Sekumpulan pria dan wanita yang tidak hanya pandai dalam bersandiwara dan mengeluarkan kata-kata jorok secara sepontan, tapi juga mampu menguras kocek anda dalam sekejap dengan gaya hidupnya yang kebarat-baratan. 

Kelompok yang berdiri 3 tahun silam ini menamakan dirinya “Geng Bebek”. Dari sumber yang tidak dapat dipercaya, Kelompok ini mengklaim dirinya memainkan peranan penting dalam gejolak perdamaian di timur tengah dan afrika. Walaupun saya sendiri tidak melihat adanya ciri ketimur-timuran dalam dandanan mereka. Lagipula, kebanyakan dari mereka berasal dari jember atau tegal. Bukan Kuwait seperti yang mereka suka gembar-gemborkan. Kelompok yang dikepalai oleh Diah, teman saya itu, beranggotan Luki Pribadi sebagai penasehat spiritual, Arie sebagai Penasehat Fashion, Iyas sebagai Fotografer dan seksi Antar jemput, serta Aulia. Dan saya sendiri? saya sebagai anggota keluar masuk. Maksudnya, Dikeluarin kalo lagi nyebelin, dan masuk lagi kalau sudah pasang muka melas minta diajak jalan.

Namun seiring berlalunya waktu, kini bisa dikatakan saya hampir tidak pernah bersua kembali dengan mereka setelah berkeluarga. Entah dengan alasan sibuk bekerja, sibuk mencari istri, hingga akhirnya sekarang sibuk karena anak. ada saja alasannya. hingga saya dijuluki “Mr. Not Today” karena kepiawaian saya membentengi diri dari ajakan pergaulan bebas mereka.

 

Kembali ke kenangan masa lalu. Aktifitas Geng ini seringkali dalam prakteknya lebih banyak ke arah entertainment & destructive dari pada sisi edukatifnya. Sehingga tidak mengherankan jika banyak dari anggotanya hanya lulusan SD saja. Dan hanya sedikit yang mampu baca tulis secara fasih. Jadi bahasa binatang diantara mereka adalah mutlak sebagai sarana berkomunikasi antar sesama dikomunitas ini. Geng ini cukup eksklusif dalam kesehariannya. Dan sering kali menjadi target sasaran aparat berwajib untuk pesta-pesta miras yang mereka sering gelar di sekitar sekolah taman kanak2. Selain itu, untuk menjadi anggotanya, anda juga disyaratkan untuk membayar biaya administrative sebesar 200 ribu rupiah tanpa boleh dicicil. Juga anda akan menjalani tes “kelucuan dan kemodisan” sebagai syarat kelulusan akhir. Penilaian secara umum terdiri atas 3 kriteria sebagai syarat untuk lulus, yaitu “Sangat Lucu & Mengesankan”, “Rata-Rata masyarakat”, dan terakhir “Mampus! kelaut aje lo!”. Penilaian menggunakan alat serba canggih yang dinamakan “Lucu meter” dan “Modis meter” yang khusus di import dari Timor Leste dan secara otomatis akan memberikan penilaian secara realtime tanpa bertele-tele seketika itu juga. Hasil akhir Panitia adalah mutlak tanpa dapat diganggu gugat.

Aktifitas mencari kafe-kafe atau tempat makan murah untuk ditunggangi adalah tugas wajib dari ketua group ini untuk dapat tetap dipilih oleh para anggotanya. Dari wilayah barat hingga selatan. Dari Wijaya sampai Menteng. Dari Wok hingga ke Cafe Menteng. Tidak jarang tempat2 yang mereka datangi, seringkali mengeluh karena omzet mereka menurun drastis dengan hadirnya mereka. Bagaimana tidak? dengan beranggotakan 20an lebih kepala keluarga, mereka seringkali hanya memesan 1 atau 2 buah minuman tapi nongkrongnya bisa 4 jam! Sehingga banyak pelanggan lainnya tidak kebagian tempat. Selain itu tempat yang mereka gunakan sebagai pertemuan acap kali dirubah bak layaknya Rapat PKI. Tidak cewe atau cowo, semuanya merokok. Sehingga lantai seringkali menjadi perluasan asbak mereka yang sudah tidak muat menampung puntung dan abu rokok mereka. Menari-nari genjer diatas meja, menyiksa, mencerca dan menelanjangi tamu lainnya hanyalah sebagian kecil dari perbuatan-perbuatan Dzalim mereka. Namun seiring dengan meningkatnya taraf hidup mereka menuju kehidupan digital lifesytle dan digital workstyle, kini target2 mereka lebih terfokus pada kafe2 yang memiliki Wifi gratis. Sehingga pada akhirnya mempertemukan saya kembali pada Diah, teman lama saya yang tengah bersurfing gratis di cafe sebelah kantor saya.

Tapi harus kita akui, sekarang ini semakin jarang rasanya kita dapat temui seseorang sahabat ditengah kehidupan yang semakin individualis dan oportunis ini. Dan semakin sulit rasanya menilai seseorang apakah sahabat atau kan teman sesaat? Lihat saja, betapa film Friends begitu digemari. Bisa jadi karena merupakan wujud manifestasi dari hausnya insan masa kini untuk sebuah persahabatan yang tulus dan murni dari lubuk hati. bukan hanya karena unsur azas manfaat.

Sebut saja Luki, salah seorang dedengkot dari geng bebek. Bapak yang tiba-tiba terdengar memiliki 2 orang anak ini (karena yang terakhir memang tidak ada yang tahu kapan istrinya hamil) berprinsip bahwa seorang teman itu lebih berharga dari pada 1000 musuh (Ya iyalahh!! Mau Benjol apa?!). “Sebagai teman itu harus memiliki kesamaan visi untuk dapat bertahan lama. Prinsipnya, ringan sama dijinjing, berat tinggalin saja lah.” ucapnya serius sembari menghirup dalam-dalam lem Aibon dari sebuah kantong. Luki yang sehari-harinya bekerja sebagai karyawan tidak tetap pada sebuah perusahaan ISP dibilangan sudirman ini, kerap kali mengeluh atas kondisi masyarakat yang sudah semakin mengalami krisis sosial dan acuh terhadap sesama. Tidak lagi mudah untuk mencari teman senasib dan sepenanggungan. “Kini orang hanya melihat status sosial. Begitu tahu mereka tajir, pasti banyak sahabatnya” ujar luki gemas. Namun pengalaman luasnya dalam memakai sumberdaya kantor secara diam-diam berhasil membawa luki ke jenjang martabat yang sedikit lebih tinggi dari OB. “Orang-orang jaman sekarang tuh susahh buat diketahui niat sebenernya. Ngakunya teman, tapi ngga tahunya ngejelekin kita dibelakang” sambung luki yang kerap kali mengalami masalah hutang piutang dengan teman-temannya.

 

Sama halnya dengan Diah, yang baru saja menikah tahun lalu dan tengah mereguk nikmatnya suasana sebagai pengantin baru. Ketua dari geng bebek ini juga beranggapan tidak jauh beda dengan luki. “Zaman dulu teh temen bisa dibeli dengan uang, kalo sekarang pembantu aja udah mahal banget. jadi maklum donk kalo tante juga pasang harga mahal. Pokoknya tante senang, tante bayar” jawabanya berdiplomatis. Memang tidak dapat disalahkan. Tingginya harga BBM saat ini sempat memaksa ibu ini untuk kemana-mana naek ojek agar tetap dapat mempertahankan taraf hidupnya untuk dapat berbelanja kebutuhan pokoknya, yaitu lipstik, bedak, dan kawan2nya. Diah yang tengah berusaha untuk membuat suaminya menjadi lelaki “Nakal”, seringkali dibuat pusing dengan kelakuan anak buahnya. Acap kali dia harus menerima malu, bilamana ada anggotanya, entah Iyaz atau Arie, tertangkap basah sedang mangkal di taman lawang. Namun apadaya, sebagai seorang pemimpin yang visioner, dia juga harus tahu bagaimana bersikap tegas didepan anak buahnya. “intinya adalah pengendalian diri bila ingin menjadi pemimpin. Dan tahu akan tanggung jawab! Dia tanggung, kita jawab” ucapnya sembari memotong bulu hidungnya yang agak-agak keluar dari sarangnya. Memang, tidak ada yang membantah sulitnya jadi pemimpin. terlebih bila setiap hari harus berurusan dengan para aparat akibat ulah anak buahnya. Sehingga kostum menjadi memegang peranan penting bagi diah dalam kesehariannya. Karena reputasinya yang cukup terkenal dikalangan preman tanah abang dan kepolisian setempat, hampir dapat disamakan dengan pemimpin2 wanita dunia lainnya seperti imelda marcos, atau aming, menyebabkan Diah harus hidup menyamar dikeseharian dengan memakai baju dingin berkupluk walaupun jakarta panas kering kerontang. “Memang ini adalah tuntutan peran yang harus saya mainkan. yaa..Buah Nanas, Buah Pepaya.. Biar Panas.. Yang penting Gayaa! hihihi..” katanya sembari membetulkan letak tahi lalatnya yang berubah-ubah tertiup angin.

@ MacCafe 1 Nov, 2004. Buka Puasa Bersama

    

Begitulah sekilas cerita kisah kasih disekolah mengenai persahabatan ini.Terakhir saya bertemu mereka lagi adalah pada saat liga bebek di SCBD tahun 2005 lalu. Liga Bowling yang sudah menjadi adat istiadat mereka setiap tanggal tua. Tidak hanya berfungsi sebagai alasan untuk melepas kepenatan setelah pulang kerja, namun juga sebagai alasan untuk melepas keperawanan bagi yang kalah. Rasanya baru kemarin saya berkenalan dengan mereka, tapi entah kenapa begitu lama rasanya hati ini tidak lagi melihat mereka. 

Belum hilang rasanya dari ingatan saat mereka masih lucu-lucu seperti anak kucing. Tak Terasa, sekarang sudah pada beranak-pinak seperti kucing. Memang, persahabatan membutuhkan proses dan pengorbanan dalam realitasnya. usaha untuk memelihara  kesetiaan dan inisatif memberikan dan mewujudkan antar sesama tanpa diminta. Sehingga menjelma menjadi Kerinduan yang menjadi bagian dari kehidupan. Terima kasih, Terima kasih sahabat-sahabat ku yang selama ini selalu berinisiatif memberikan masukan-masukan positif yang cukup.. menjatuhkan mental! Terima kaseehh!!

I miss You all Guys… Banyak Moment-moment tolol diantara kita yang rasanya sulit untuk dilupakan.

    

  “Love is blind.. But it Can See clearly in Mercedes..”- By Unknown Author

h1

Disaat Hidup Begitu Membosankan

September 21, 2006

dsc_1431.jpg

Setiap pagi jam setengah 9, adalah waktu saya berangkat kerja. ditengah kemacetan jalan didepan roxy mas yang sangat semrawut, saya suka melihat-lihat kesekeliling dari dalam jendela mobil. Jalan tersebut adalah sebuah jembatan yang berdiri diatas kali banjir kanal. setiap paginya banyak pedagang-pedagang maupun orang-orang yang melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang hanya duduk-duduk merokok dengan pandangan nanar. Ada yang sibuk mengurusi lapak dagangannya nya ditengah tebalnya asap kendaraan dan ramainya orang. maupun para polisi cepek yang tengah beraksi. 
dsc_1498.jpg
banyak ekspresi disetiap 2 meter pandangan. terkadang saya suka bertanya didalam hati, seperti apa kehidupan mereka? apakah begitu beratnya hidup hingga mampu meninggalkan bekas pada guratan2 wajah mereka. wajah penuh dengan perjuangan dan kepapaan.

Pemandangan setiap hari yang saya lalui disepanjang jalan Roxy mas, terkadang mampu membuat air mata terjatuh. melihat bagaimana seorang ibu sambil menggendong anaknya yang masih bayi tidak mempedulikan polusi asap knalpot kendaraan dan hiruk pikuknya jalanan. dilapak seluas satu meter persegi ditepi jalan raya yang penuh sesak dengan kendaraan, sang ibu seakan terlupa sudah dengan sibuknya mengatur lapak dagangannya yang saya sendiri jujur berkata, mana ada yang mau beli baju dan celana bekas seperti itu? malah kelihatan belum dicuci lagi.
dsc_1502.jpg
setidaknya itu dari sudut pandang saya dari seseorang pengamat yang duduk nyaman di dalam mobil sambil menikmati merdunya alunan musik. tapi mungkin kita tidak menyadari, baju bekas itu lah yang menghidupi mereka hingga saat ini. baju bekas itulah yang membuat ibunya tetap dapat menyusuinya bayinya. sebuah baju bekas yang mampu menimbulkan bekas guratan kehidupan diwajah sang ibu. Sebuah baju bekas yang bahkan menjadi lebih berharga dari seorang manusia, suaminya.

Dari sisi kita sebagai orang yang mungkin berasal dari ekonomi berkecukupan, tetap tidak bisa masuk akal sehat saya. bagaimana mungkin seorang bapak dapat tega meninggalkan istrinya dan anaknya yang masih kecil itu untuk mengurus lapak seorang diri dipinggir jalan yang sarat dengan polusi asap kendaraan? Lalu, dimana adilnya Tuhan? Mengapa Tuhan menciptakan kemiskinan bila Tuhan adalah Maha Kaya? Mengapa harus ada kaya dan miskin, senang dan Sedih dikehidupan ini? tidak bisa kah kita hanya diberikan hidup kaya dan senang saja semuanya? toh tidak akan mengurangi kekayaan Tuhan yang Maha Kaya itu? apa dosa anak yang lahir dari rahim ibu tersebut hingga mendapat kehidupan yang sangat berat seperti itu. sungguh tidak terbayang bagi saya bila memiliki kehidupan seperti itu.

Namun tidak mungkin juga semuanya diciptakan sebagai direktur. lalu siapa yang akan menanam padi? Tidak mungkin juga semuanya diberikan kekayaan berlimpah, lalu bagaimana kita bersedekah? Hidup ini adalah sebuah misteri bagi yang tidak mengerti agama. tapi sebuah pelajaran dan peringatan bagi yang membaca kitab-Nya. Tidak mungkin ada akibat tanpa sebab. dari pandangan mata kita manusia biasa, mereka hanyalah seorang ibu dan bayinya yang tidak beruntung hidupnya, terlahir sebagai orang miskin. tapi mungkin dibelakang semua itu ada penyebab yang membuat Allah menetapkan sebuah kehidupan seperti itu kepada mereka. entah apa, tapi saya yakin ada penyebab dan maksudnya. seperti bila kita mendengar bayi yang terlahir cacat, secara akal sehat memang itu adalah ketetapan Allah. namun ada hal-hal yang kita tidak ketahui bahwa mungkin orang tuanya memasuki ketetapan sunnah-sunnah Allah (contoh: air dimasak akan mendidih) hingga menyebabkan bayinya terlahir cacat. Kita tidak tahu.

Albert Einsten pernah berkata pada dosennya ketika dia ditanya apakah Tuhan menciptakan kejahatan? Dia menjawab, layaknya apakah gelap itu ada hanyalah sebuah manifestasi dari tiadanya cahaya. dan diberikan nama gelap karena kita tidak mampu mengukur panjangnya gelombang warna pada cahaya dan intesitas nya saat keadaan gelap. sama dengan kejahatan, apa yang tampak dimata untuk kehidupan ibu dan anak tersebut mungkin bisa membuat kita berfikiran bahwa Tuhan telah jahat pada kita. Namun apa mungkin lebih baik kita sadari bahwa kehidupan seperti itu mereka miliki dikarenakan oleh tidak adanya Tuhan dalam hati mereka sejak lama?

Dan sungguh itu merupakan sebuah contoh kehidupan yang diperlihatkan oleh Allah Swt untuk setiap hambanya. Suka atau tidak Allah memiliki ketetapannya sendiri untuk masing-masing kehidupan. Yang diberikan sesuai dengan tingkat ketaqwaan mereka. ambil saja contoh, mana ada pastur atau dai yang semiskin-miskinya menurut ukuran kita menderita seperti ibu itu. setidaknya mereka memiliki kehidupan yang lebih terhormat walaupun hanya berkecukupan. Semuanya dihadirkan ke dalam kehidupan manusia dengan satu maksud, yaitu agar manusia bersyukur dan bertaqwa. Sebagai tanda kebesaran Dia sang Maha Pencipta kehidupan. Bahwa ada kehidupan yang lebih berat, daripada sekedar “membosankan”.

dsc_1442.jpg

h1

There’s Hope for Working Parents

September 21, 2006

Anak Dan Problematika Orang Tua Bekerja

Perkembangan Mental yang sehat bagi seorang anak juga ditentukan oleh intensitas kebersamaan serta interaksi yang konsisten antara orangtua dengan kehidupan anaknya.
Ketika Kebersamaan Menjadi Intinya
Tidak ada seorang anak-pun akan setuju dengan kebanyakan mindset orang tua sekarang yang berprinsip bahwa kualitas pertemuan dengan orang tua adalah sudah mencukupi.
Karena bagaimanapun juga kuantitas selain kualitas kebersamaan dengan orang tua bagi seorang anak tetaplah penting karena sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan moral diri anak itu sendiri. Menurut penelitian, interaksi langsung yang sering terjadi antara orang tua dan anak sangat berperan banyak dalam pembentukan karakter dan moral anak yang lebih baik.
Sebut saja contohnya untuk kasus-kasus remaja ibukota seperti kasus narkoba dikalangan pelajar atau kasus di dunia pendidikan Indonesia saat ini yang sedang berkabung akibat sekitar 20% siswanya tidak lulus ujian nasional. Menurut tokoh pendidikan Jateng Drs H Sudharto MA di Semarang, hal ini juga secara tidak langsung disebabkan oleh kurangnya interaksi antara orang tua dengan anak dan pihak sekolah akibat waktunya yang sudah tersita dengan pekerjaan mereka. ”Anak-anak kita jangan diurus pembantu dan pengemudi, orang tua juga harus selalu mendampingi mereka.” saran Drs H Sudharto MA.
Riset terakhir menguatkan apa yang dikatakan oleh tokoh pendidikan Jawa Tengah tersebut. Survei paling komprehensif yang pernah diadakan mengenai remaja menemukan bahwa remaja yang memiliki hubungan baik dengan orang tuanya, dengan keluarganya, serta dengan komunitas sekolahnya, akan lebih sehat jiwanya daripada yang tidak. Dan hal tersebut tidaklah tergantung pada ras, etnik, struktur keluarga, atau pun status ekonomi. Namun tergantung pada seberapa besar perhatian orangtua mau meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anaknya. Lebih lanjut, studi yang sama menyatakan bahwa semakin banyak interaksi bersama yang diikuti orang tua dan anak, semakin efektif untuk mencegah kasus kehamilan atau narkotika di kalangan remaja (Blum & Rinehart, 1997)
Sehingga patut diingat bahwa anak, terlebih yang sedang beranjak remaja masih memerlukan orang tuanya sama seperti halnya seorang bayi dan balita. Pentingnya kebersamaan antara orang tua dengan anak tidak boleh berkurang bahkan pada saat anak beranjak dewasa sekalipun.
Namun kondisi perekonomian Indonesia, terlebih setelah krisis moneter memang memaksa para ibu-ibu rumah tangga mau tidak mau juga harus turut ambil bagian membantu perekonomian keluarga. Hubungan antara anak dan orang tua yang sebelumnya masih dapat tertutupi dengan adanya kehadiran ibu dirumah, sekarang menjadi semakin merenggang di tengah situasi keluarga yang kedua orangtua-nya bekerja dan menitipkan anaknya sehari-hari dalam asuhan pembantu atau anggota keluarga lainnya. Lalu apa solusinya agar kualitas dan kuantitas kebersamaan antara orang tua yang sibuk bekerja dengan anak dapat tetap terjaga? Jarak dan waktu adalah kendala utama bagi orangtua masa kini yang sibuk bekerja namun berharap untuk tetap dapat menjalin kebersamaan yang harmonis dengan anak. Untuk itu dibutuhkan sebuah tools yang mampu menutup jurang pemisah antara anak dengan permasalahan orangtua masa kini. Solusi untuk permasalahan ini akan segera dapat terjawab dengan akan hadirnya layanan komunikasi berbasis teknologi generasi ke tiga (3G) di tanah air kita seperti yang telah banyak digembar-gemborkan di berbagai media massa. Sebuah teknologi telekomunikasi yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan keluarga masa kini.
Teknologi Menjadi Solusinya
Memang tidak dipungkiri bahwa dewasa ini teknologi semakin menyatu dengan manusia dan bahkan sering menjadi jawaban untuk mempermudah kehidupan di segala hal. Salah satu provider telekomunikasi, ProXL, dengan visinya “Life Unlimited”, sebentar lagi juga akan menghadirkan teknologi telekomunikasi berbasis 3G di Tanah Air. Sebuah layanan telekomunikasi yang memungkinkan kita untuk dapat berinteraksi dengan sesama bukan hanya melalui media suara saja, namun juga sekaligus menikmati tatap muka dengan lawan bicara dan berinteraksi secara langsung melalui fasilitas video on call. Sehingga kendala jarak dan waktu tidak lagi jadi penghalang berkat adanya layanan 3G ini, untuk dapat tetap menjaga keharmonisan dan kebersamaan antara orang tua yang sibuk bekerja dengan anaknya.
Layaknya sebuah kendaraan yang seakan sudah menjadi kebutuhan primer bagi keluarga masa kini, mobilitas dan konektifitas secara realtime pada saatnya juga akan menjadi sesuatu yang vital dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga perlu disadari, manfaat layanan 3G terbaik pada nantinya bukanlah pada fungsi voice, atau layanan data supercepat semata. Karena kalau hanya fungsi voice, sudah jelas, layanan GSM yang sekarang pun sudah lebih dari cukup untuk dapat berkomunikasi kapan saja dan dimana saja. Bahkan untuk komunikasi data seperti email maupun layanan internet dengan teknologi GSM 2.5G seperti GPRS atau EDGE juga dirasa masih belum maksimal dalam penggunaannya oleh masyarakat sekarang. Namun lebih dari itu, manfaat layanan 3G akan menjadi suatu katalisator convergence bagi digital lifestyle sebenarnya dengan kehidupan konvensional. Pada nantinya PDA dan smartphone juga akan menjadi suatu alat dan sarana yang sangat berperan penting dalam sebuah keluarga seperti halnya sebuah kendaraan pribadi atau pembantu rumah tangga. Dari orangtua yang sibuk bekerja mencari uang, anak dengan keasikan bersosial dan sekolahnya, hingga pihak guru dan sekolah, semuanya akan melengkapi diri dengan perangkat mobile 3G agar hubungan yang harmonis dapat terus terjalin diantara mereka.
Karena tingkat komunikasi yang interaktif, yang mampu membangun intimacy dan rasa kebersamaan selama berkomunikasi hanya dapat terjadi bila kita dapat menatap wajah lawan bicara. Bagaimanapun juga, perasaan yang ditimbulkan akan berbeda bila dalam proses berkomunikasi tersebut kita dapat berbicara, melihat dan mendengar pada saat bersamaan. Seakan-akan tidak ada bedanya dengan kita berbicara sendiri dengan lawan bicara kita secara nyata.

3G Untuk Kebersamaan Keluarga
Ditahap manapun kita berada, 2G ataupun 3G, sebentar lagi kita harus dapat menerima kenyataan bahwa mobilitas serta konektivitas akan menjadi suatu yang tidak terpisahkan dalam kehidupan berkeluarga.

Mengikuti cepatnya perkembangan teknologi telekomunikasi, mungkin dapat sedikit memusingkan bagi orang awam untuk dapat paham sedemikian banyak teknologi maupun jargon-jargonnya. Secara sederhananya, Third Generation technology (3G) dapat kita konotasikan sebagai teknologi komunikasi Video on call dan faster data transmission. Karena salah satu perbedaan utama antar teknologi komunikasi 3G dengan teknologi GSM yang ada sekarang (2G & 2.5G) adalah terletak pada kapasitas transmisi data yang tersedia bagi si pemakai hingga memungkinkan kita untuk berbicara sambil bertatap-muka dari sebuah handphone. Sebagai perbandingan, bila dalam jaringan 3G kapasitas transmisi data mampu mencapai 2Mbps, maka dalam arsitektur jaringan 2G kecepatan transmisi data bervariasi hanya antara 9,6 Kbps hingga 14,4 Kbps. Dan pada generasi penerusnya yaitu 2,5G dalam prakteknya mampu memiliki kecepatan sebesar 57,6 – 112 Kbps untuk GPRS. Sedangkan EDGE secara teoritis mampu mencapai kapasitas transmisi hingga 384 Kbps.
Namun seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, keunggulan teknologi ini terletak pada flexibilitasnya nanti yang akan membawa rasa baru dalam berkomunikasi. Teknologi yang dapat membuat banyak kemungkinan dalam aplikasinya nanti. Menelpon maupun terkoneksi, akan menjadi suatu pengalaman yang begitu personal, mengasikkan dan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Berinteraksi secara nyata. Mungkin ada gunanya bila kita membawa diri sejenak ke masa depan dan melihat seperti apakah aplikasi digital lifestyle dalam sebuah keluarga saat teknologi 3G sudah terealisasi secara penuh dan menyatu dalam kehidupan masyarakat.
Kebersamaan Tanpa Batas
Bayangkan sebuah keluarga dengan 2 orang anak, Tia dan Kiko, yang harus menerima kenyataan bahwa kedua orangtuanya bekerja. Tia, adalah yang terbesar dan sedang menikmati indahnya masa-masa SMA. Sedangkan Kiko yang terkecil, baru saja akan masuk sekolah dasar.
Untungnya dengan hadirnya teknologi 3G di tengah keluarga mereka, sang Ibu masih dapat menemani anaknya yang terkecil disela-sela kesibukannya di kantor pada hari pertama anaknya masuk TK. Dengan sabar memberi pengertian kepada anaknya sambil bertatapmuka dan berinteraksi melalui video on call agar tetap tenang dan tidak perlu merasa takut di hari pertama masuk sekolah. Sang anak pun merasa tenang hatinya, karena menyadari bahwa ibunya tetap dapat menemani dirinya kapanpun dibutuhkan.
Pada saat yang bersamaan, sang Ayah yang tengah bekerja di kantor tiba-tiba teringat bahwa hari itu adalah hari pertemuan antara orangtua dengan guru-guru disekolah anaknya yang tengah duduk di bangku SMA. Pertemuan rutin untuk membahas kemajuan pendidikan anak ditiap-tiap semesternya. Di sekolah anaknya tersebut, jaringan 3G untuk konektivitas telah benar-benar dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Agar memungkinkan para orang tua dapat sepenuhnya berpartisipasi dan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk kehidupan anak-anak mereka juga. Sesibuk apapun.
Sekolah itu memiliki sebuah portal Web yang memungkinkan para orangtua untuk dapat terkoneksi dengan situs Web ini dan berkomunikasi secara langsung dengan para guru melalui video on call. Atau mencari informasi seperti data kehadiran murid maupun akses terhadap data-data yang berkaitan dengan nilai mata pelajaran maupun prilaku mereka disekolah. Sehingga berkomunikasi melalui video on call sudah menjadi hal umum disekolah itu, sama halnya dengan mulai lazimnya bersilaturahmi melalui SMS/MMS saat hari lebaran. Dengan adanya fasilitas ini, sang ayah melalui smartphonenya dapat tetap menghadiri acara tersebut, walaupun hanya secara virtual. Akhirnya melalui video on call tersebut sang ayah mengikuti acara tatap muka sambil sesekali bertanya kepada para guru yang hadir saat itu seputar pendidikan anaknya disekolah.
Memang, kecenderungannya Anak Baru Gede (ABG) jaman sekarang seringkali enggan bila aktifitas mereka “diganggu” dengan kehadiran orang tua dilingkungan mereka. Entah dengan alasan mereka yang merasa sudah dewasa hingga malu dengan teman-temanya. Ataupun karena merasa tidak lagi memiliki ikatan emosi yang terlalu dekat dengan orangtuanya. Banyak alasannya. Namun tidak bagi Tia. Peran orangtuanya yang selama ini selalu menanamkan nilai-nilai yang positif kepada anaknya, telah membawa Tia kepada suatu pemahaman bahwa seorang anakpun harus memiliki tanggung jawab tidak hanya pada dirinya sendiri namun juga kepada orang lain, terutama orangtua.
Tia yang terkadang pulang malam menghadiri acara pesta teman-temannya kini tidak lagi membuat was-was orangtuanya yang menunggu di rumah dengan adanya fitur Location Based Service dari 3G. Fitur ini bekerja seperti layaknya sebuah tracking device yang memungkinkan pemakainya dapat mengetahui lokasi geografis seseorang, ataupun kendaraan baik secara otomatis maupun melalui otorisasi terlebih dahulu dari orang yang bersangkutan. Dengan fasilitas ini, handset Motorolla Tia yang memiliki fitur GPS, dapat mengirimkan data coordinat ke smarphone orangtuanya yang terintegrasi dengan fitur Geograpic Infromation System (GIS) sehingga orangtuanya dapat mengetahui keberadaan anaknya yang tengah pergi di malam hari. GIS tersebut memiliki fitur menu yang dapat di browsing berdasarkan nama tempat dan jalanan. Dengan fitur ini maka lokasi Tia dapat diketahui secara pasti beserta nama jalan dan tempat Tia berada. Selain itu, urusan mencari taksi bagi Tia di malam hari juga menjadi lebih mudah, karena para taksi sudah dilengkapi dengan GPS dan terkoneksi melalui Location Based Service yang memungkinkan seseorang dapat mengetahui keberadaan taxi disekitarnya serta mengirimkan kordinat lokasinya ke taxi tersebut sebagai konfirmasi panggilan. Bagi Tia, ini merupakan sistem keamanan baru 24 jam yang memungkinkan dia dapat pergi dengan rasa aman. Dan yang terpenting tidak lagi membuat was-was orangtuanya karena jarak tidak lagi menjadi batasan dengan adanya video phone dan location based service dari 3G.
Rasionalitas Vs Emosionalitas
Melihat peran aplikasi 3G seperti yang diilustrasikan diatas, akan selalu menimbulkan pertanyaan, seberapa mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah kebersamaan secara virtual seperti itu? Apalagi di tengah kondisi perekonomian masyarakat yang semakin sulit, daya beli yang semakin lemah, dan tingginya harga BBM. Sehingga terkesan bahwa teknologi ini belum tentu untuk semua segment keluarga. Namun, orangtua sehat manapun akan memiliki pandangan yang relatif sama, kita bekerja demi anak, dan anak butuh orang tuanya. Bukankah secara faktualnya inkonsistensi dari emosionalitas orangtua terhadap anak seringkali mengalahkan hitung-hitungan rasionalitas? Apakah kita harus menempatkan sebuah hubungan yang harmonis dan masa depan anak-anak kita pada resiko kehancuran karakter bila disaat bersamaan ada cara baru untuk dapat tetap membangun sebuah kebersamaan yang lebih efektif dan efisien – Video on Call.

Paradigma Baru Berkomunikasi
Teknologi telekomunikasi dewasa ini adalah sesuatu yang transformatif, dan perusahan telekomunikasi adalah cultural change agent-nya. Amerika, menjadi Amerika yang berbeda setelah penemuan telegraph. Dunia, menjadi dunia yang berbeda setelah televisi. Dan sekarang, dunia akan kembali berbeda setelah munculnya teknologi selular, dengan hadirnya teknologi 3G.
Disinilah letak kekuatan sebenarnya dari industri telekomunikasi, dimana tidak hanya sebatas business risk taker, namun juga menjelma menjadi sebuah cultural risk taker. Suatu simple invention yang dilakukan oleh ProXL dan perusahaan lainnya untuk dunia telekomunikasi di Indonesia hari ini, pada nantinya akan membawa dampak besar bagi kehidupan ratusan juta penduduk di negeri ini secara global. Membuat suatu perubahan kultur kehidupan yang lebih kondunsif dan positif ditanah air ini dalam beberapa tahun mendatang. Juga disinilah tantangan bagi para pelaku telekomunikasi di Indonesia untuk dapat berfikir out of the box agar dapat merubah mindset masyarakat untuk mulai berfikir secara “mobile”, bukan menit!
Karena saat kita mengganti teknologi kawat dengan wireless, sepatutnya tidak lupa untuk turut mengganti paradigma berkomunikasi di masyarakat-nya juga agar sesuai dengan aliran teknologi yang dianut. Disinilah letak missing point permasalahan utama-nya pada implementasi 3G. Bukan pada handsetnya, varietasnya maupun teknologinya, namun mindset pemakainya.
3G sekali lagi bukanlah semata menjadi pengganti sarana telekomunikasi telepon rumah maupun selular yang ada sekarang ini, karena letak kemampuan potensial sebenarnya dari 3G adalah pada “mobility” dan “immediacy”, hal yang belum dimiliki oleh teknologi komunikasi 2G maupun 2,5G seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Komunikasi secara mobile dan immediate tidak berarti hanya sebatas kita berkomunikasi kapanpun atau dimanapun, namun lebih luas dari itu, mobility dan immediacy berarti bahwa kita dapat merespon secepatnya saat itu juga dalam kaitannya dengan bentuk berkomunikasi, dimanapun dan kapanpun saat diinginkan. Dengan kata lain, ini adalah Interaksi. Komunikasi yang tidak lagi berupa monolog, namun berubah menjadi “dialog” serta lebih kaya akan interaksi.
Kini sudah saatnya para operator-operator telekomunikasi mulai bertindak sebagai cultural change agent dan membawa masyarakat menuju suatu kehidupan yang bernama “mobile”. Dan suka atau tidak, interaksi secara mobile akan mendominasi dalam keseharian hidup masyarakat kita di tahun-tahun mendatang, bukan dekade. Ambil saja contoh, akal sehat kita mungkin mengatakan Oral culture masyarakat kita dari tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an saat sudah diperkenalkannya teknologi selular, memang bentuknya adalah bicara, sesederhana itu. Namun dengan mulai diminatinya SMS sebagai alternatif komunikasi selular yang berbiaya murah beberapa tahun belakangan ini, diluar dugaan dalam waktu singkat ternyata mampu membawa perubahan besar. Tidak hanya semakin tumbuhnya market share layanan GSM namun juga pada budaya bertelekomunikasi masyarakat dari “speaking” menjadi “texting” walaupun ini juga merupakan bentuk lain komunikasi. Dan dengan adanya 3G diharapkan dapat kembali terjadi shifting dari “texting” menuju “Mobile interacting”. Disitulah letak critical succes factor bagi keberhasilan implementasi teknologi 3G di Indonesia, yaitu bagaimana merubah paradigma berkomunikasinya terlebih dahulu. Karena sebuah service provider sudah seharusnya lebih banyak bicara akan “Asiknya!” berkomunikasi, bukan canggihnya teknologi.
Pada nantinya dampak dari teknologi 3G ini sudah diprediksi akan menyebabkan terjadinya suatu transformasi dalam budaya berkomunikasi di masyarakat menuju ke suatu taraf kehidupan digital lifesytle dan digital workstyle yang sebenarnya. Dan wujud kemajuan suatu bangsa juga turut diukur dari bagaimana cara bangsa itu berkomunikasi.@

h1

TURN AROUND STAGE – TO MAKE PSN RINGS BACK AGAIN

September 21, 2006

Apakah kita Perlu Perubahan?

Setiap usaha memiliki daur naik dan turun dalam kiprahnya layaknya dua sisi mata uang pada sebuah koin. Akan tetapi ada suatu titik dimana perhatian lebih harus dilakukan bila kondisinya sudah dikatakan kritis. Namun terkadang sulit untuk menerima kenyataan, apakah kondisi perusahaan memang sudah dalam kondisi kritis? Ataukah hanya sebuah “low Point” dalam siklus normal perusahaan saja? saya jawab ini kritis. Tidak perlu menunggu hasil audit report atau metode management canggih untuk menjawabnya, karena cukup mudah untuk mengetahuinya dari sisi seorang akuntan. Hanya dengan melihat nilai kumulatif negatif earning yang sudah jauh melebihi nilai net asset, bottom line yang sudah merah dan bahkan pada level net operating income sekalipun, sebagai seorang akuntan tidak ada cara lain selain melakukan restrukturisasi dibidang keuangan karena saldo neraca sudah negatif. Selain itu, tingginya tingkat turnover karyawan senior, declining trend, dan seringnya terjadi tunggakan ke supplier sudah merupakan indikator yang cukup serius untuk mengatakan bahwa kita dalam keadaan kritis. Bila kondisi kritis, maka hanya ada satu jalan keluarnya, Management Krisis atau dikenal sebagai turnaround stage. Suatu pendekatan recovery bisnis yang dimulai dari sisi financial untuk menstabilkan arus kas dan men-deleverage neraca untuk membawa perusahaan pada kondisi stabil serta berkesinambungan.

Langkah awal manajemen dalam proses turnaround ini setidaknya sudah dimulai pada awal semester tahun lalu dengan melakukan rasionalisasi sejumlah karyawan. Akan tetapi, sudah saatnya kelanjutan dari keputusan ini menghasilkan sebuah transformasi total yang berkesinambungan pada kondisi perusahaan agar pengorbanan dari teman-teman kita terdahulu tidak sia-sia begitu saja. Bila tidak, esensi dari turnaround itu sendiri akan pudar dan tindakan rasionalisasi itu hanya akan dikenang sebagai sejarah kelam perusahaan yang hanya akan memperbesar rasa ketidakpercayaan karyawan terhadap masa depan perusahaan dimasa mendatang.

Tapi hanya mengupayakan efisiensi dan meningkatkan produktifitas dengan sedikit karyawan tidaklah cukup dalam turnaround stage. Strategi memotong biaya memiliki kelemahan mendasar dibanding strategi pertumbuhan. Karena ada pada suatu titik pada strategi ini dimana pengurangan biaya akan membuat level operasional malah menjadi terganggu dan tidak berjalan dengan baik. Dapat saja kita memangkas biaya R&D, IT atau memangkas biaya kompensasi karyawan misalnya, hasilnya pasti lah peningkatan shortterm earning. Tapi hal ini secara tidak langsung juga akan mematikan masa depan perusahaan. Dan seorang visionary finance tahu benar kapan dia harus mengorbankan immediate profit yang dapat menghasilkan sustainable return dikemudian hari. Maka itu, agar berkelanjutan, turnaround stage memerlukan sebuah langkah reposisi bisnis yang sifatnya stategis. Mengapa bersifat strategis? Karena bila hanya melakukan langkah-langkah kecil yang sifatnya jangka pendek dengan hanya memusatkan ke improvement business process semata misalnya dan tidak mengembangkan insign pada sisi financial, pendekatan baru pada pasar, pengembangan human resources, serta transformasi/perubahan di berbagai aspek, maka managemen akan kehilangan momentum untuk melakukan perubahan strategis sejati menuju kondisi stabil dan sehat.

Karena Turnaround stage tidaklah sesederhana hanya melakukan pengembangan produk, atau merubah strategi marketing maupun strategi keuangan semata. Dalam prakteknya, turnaround stage adalah sebuah “Turbulen Emosi” yang me-represtasikan titik perubahan paling fundamental bagi sebuah organisasi perusahaan. Tim Management sebagai turnaround team membawa nasib perusahaan dan karyawannya di tangan mereka. Pengetahuan bahwa ratusan mungkin ribuan nasib karyawan bergantung kepada setiap keputusan yang diambil dan langkah yang dilakukan ditengah suasana “zero error tolerance” menjadikan turnaround sebagai suatu langkah bisnis yang paling stressful dan sulit dilaksanakan secara sepihak saja.

Lalu, melihat kondisi PSN secara global dapatkah diselamatkan? saya bilang dapat. Karena ruginya saya lihat adalah rugi kumulatif nilai buku akibat beban bunga dan depresiasi, dan belum rugi operasi. Setidaknya itu yang saya tahu dari management report untuk EBITDA selama ini (dengan asumsi EBITDA adalah operating cashflow). Kedua, dari sisi human resources, PSN memiliki orang-orang berkemampuan tinggi yang diakui oleh pasaran tenaga kerja. Ketiga, bisa dikatakan PSN mungkin merupakan satu-satunya perusahaan berbasis satelit terkemuka di Indonesia, tetapi kita beroperasi jauh dibawah potensi dan kapasitas serta prospek kedepan yang semakin mengkhawatirkan akibat persaingan yang ada di dunia telekomunikasi. Namun, PSN adalah perusahaan yang tidak diragukan lagi dapat melayani dan membangun infrastruktur di daerah rural sekalipun lebih baik dari siapapun di Indonesia. Kalau mau jujur, kita struggling hingga sekarang ini bukanlah karena lack of leadership ataupun rendahnya moral karyawan. Tapi sumber masalahnya lebih banyak disebabkan oleh tingginya tingkat hutang yang ditanggung karena overinvestment, serta karakter produknya itu sendiri yang terlalu niche dan sulit diserap pasar Indonesia. Saya rasa sudah banyak taktik dan tekhnik yang selama ini dilakukan untuk mengembalikan PSN pada kondisi awal, tapi dalam turnaround stage dibutuhkan sebuah extraordinary vision untuk dapat survive. PSN butuh sebuah transformasi bisnis yang terstruktur dan terukur untuk mengembalikan tingkat pertumbuhan dan kestabilan jangka panjangnya.

Satu hal yang saya lihat sebagai “the most important thing” bukan lah teknologi, atau produknya, tetapi mindsetnya. PSN, ACeS & subsidiary adalah sebuah “global company” dengan mindset regional. Sebuah global service provider namun berkompetisi antar sesama daripada bersynergi untuk bersaing secara global. Selain itu, PSN adalah perusahaan yang di driven by engineer. Terdapat 200-an staff lebih di PSN serta puluhan staff pada level managerial yang mana 80%nya merupakan lulusan engineering. Sudah merupakan suatu karakter umum bagi para engineer untuk cenderung tidak begitu memberikan perhatian bila menyangkut pada pembahasan sekitar keuangan, dan cenderung lebih tertarik ke teknologi dan development (technology driven). Akan tetapi perusahaan tanpa profit yang cukup tidak akan dapat survive terlepas dari apapun teknologi yang dipakai atau ideologi apapun yang diyakini. Sama halnya, Tidak akan ada repeat buyer maupun add on selling tanpa customer satisfation. Maaf, bukan bermaksud untuk skeptis terhadap kelompok tertentu, tapi ini juga dialami oleh hightec companya lainnya seperti Voksel, UT Indonesia, Caterpilar dan Canon, Inc.

Langkah Turnaround

Proses turnaround dibagi menjadi 2 tahapan. Pertama adalah shortterm crisis management, dan kedua adalah long term crisis management. Shortterm Crisis management dilakukan bila kondisi perusahaan diibaratkan orang sakit, maka kondisi pendarahannya sudah parah dan kritis, dan sampai kondisinya stabil tidak ada waktu dan tempat untuk mengimplementasikan teknik-teknik management canggih apapun jargon-jargonnya. Lupakan dahulu product development, ekpansi pasar atau promosi produk, bleeding must stop first! Dalam shortterm crisis diperlukan sebuah fokus managerial yang berbeda, setidaknya untuk sementara. Management harus berkonsentrasi penuh pada cashflow serta mengumpulkan sumberdaya lainnya, setidaknya sebagai token payment ke supplier, dan karyawan. Terlebih lagi, usaha untuk mendeleverage neraca yang merupakan sumber masalah, sering kali hanya membuat perusahaan hidup untuk membayar hutang saja. Tidak lagi dapat melakukan investasi-investasi strategic karena surplusnya sudah dicadangkan penuh untuk membayar hutang. Seperti saya katakan di awal, negoisasi ulang hutang dalam proses turnaround PSN menjadi prioritas pertama dilakukan untuk menurunkan beban hutang, terutama bunga. Setidaknya SIBOR plus 1 atau 2 maksimalnya dan dibayar selama 10-15 tahun untuk pokok dan bunganya. Karena tingkat suku bunga yang saya tahu untuk PSN adalah kisaran 10%-12%. Sebuah rate umum yang berlaku di Indonesia. Saya tidak bicara haircut. Bila hal ini dapat dicapai, PSN secara net present value jauh akan diuntungkan. Memang usaha ini tidak akan melewati karpet merah dalam perjalanannya. Kredibilitas kepemimpinan dan reorganisasi amat penting disini untuk memperoleh kepercayaan kembali dari kreditur.

Sedangkan tahap longterm crisis management baru dapat dilakukan bila pasien sudah keluar dari emergency room dan pindah ke ruang perawatan.

Merestruktur Mindset dan Organisasi

Tidak ada metode yang sama dalam langkah Turnaround. Setiap turnaround specialiast memiliki caranya masing-masing dalam pendekatannya. Melihat kondisi PSN, langkah pertama yang harus dilakukan untuk memulai turnaround stage adalah merestruktur ratusan mindset karyawan yang mungkin sudah kehilangan kepercayaan pada masa depan perusahaan. Akan tetapi, bukanlah proses yang mudah untuk merubah mindset karyawan bila tidak disertai adanya komitmen yang nyata untuk turut berubah dan langkah yang kongkrit serta terencana dari top level management, agar dapat menyakinkan segenap personel perusahaan bahwa revival plan tersebut akan berhasil bila ada perubahan sikap dari karyawan juga. Lagipula, Top down commitment akan sia-sia tanpa bottom up support. Sekali lagi, turnaround bukanlah tugas one man show. Karena tugas tim management dalam proses komunikasi ini kepada karyawan bertujuan membangun konsensus tentang perbaikan apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan nasib perusahaan. Jika perencanaan hanya merefleksikan CEO’s ideas, CEO akan terjebak pada tanggungjawab untuk melakukannya seorang diri, tanpa bantuan dan dukungan nyata dari senior manager, lini manager, dan karyawan.

Kedua, Proses turnaround yang berhasil haruslah berupa suatu perubahan yang bahkan level customer-pun dapat merasakan bahwa memang adanya perubahan, yang biasanya terefleksi di produck maupun service perusahaan tersebut. Jadi intinya adalah implementasi bukan hanya reorganisasi. Dalam konteks sederhananya, bila sebelumnya manajemen dipacu untuk berplanning, maka kali ini harus dituntut untuk mengimplementasikannya. Strategi yang terbaik sekalipun percuma bila tidak dapat diimplementasikan atau kehilangan momentum dalam implementasinya. Dalam proses turnaround, 5% untuk planning dan 95% untuk eksekusi. Mudah saya katakan mengapa harus begitu, karena kita in business! Pelanggan kita menuntut dan menilai dari apa yang kita eksekusikan dan bukan apa yang kita rencanakan. 60% saja waktu kita habis dalam planning, bisa dipastikan jalan panjang yang terdiri atas meeting, perencanaan, meeting, perencanaan, hingga akhirnya hilang insight terhadap objective mulanya dan akhirnya membutuhkan perencanaan baru lagi dari awal.

Eksekusi tepat dan cepat menjadi hal penentu dan persyaratan fundamental yang membuat benang merah antara berhasil atau gagal dalam turnaround stage ini. Pendelegasian wewenang serta komunikasi yang efektif, jelas dan dimengerti sehingga mengeliminir intrepretasi yang salah antara commander dan executor akan memperpendek cycles times antara keputusan dan implementasi. Hal ini sudah pasti membutuhkan organizational architecture baru serta corporate cultur yang memadai agar dapat menumbuhkan empowerment karyawan di tubuh perusahaan, yang memungkinkan adanya pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang jelas per jabatan. Peranan HR department untuk membangun human capital architecture baru sangatlah penting kaitannya dalam usaha revitalisasi perusahaan. Memang dalam prakteknya, turnaround stage sangat identik dengan rasionalisasi karyawan, akan tetapi saya berpendapat turnaround yang sukses bukanlah yang mengeleminasi tenagakerja, tapi sebaliknya malah harus mampu menciptakan lapangan kerja baru seiring dengan sehatnya perusahaan.

Jika tahapan stabilisasi dan reorganisasi tersebut telah sukses dilakukan dan kondisi perusahaan sudah lebih stabil dan jelas arahnya, barulah kita dapat membangun sebuah sustainable longterm growht melalui transformasi bisnis. Menurut saya, Revival plan PSN dapat selesai dalam 3 tahun. 3 tahapan tersebut yaitu Stabilisasi, Reorganisasi, & Restrukturisasi selama 2 tahun, kemudian dilanjutkan dengan transformasi bisnis sebagai tahapan longterm crisis management selama 1 tahun.

Memang, metode turnaround yang saya usulkan lebih menekankan pada unsur-unsur intangible perusahaan berdampingan dengan usaha restrukturisasi hutang. Akan tetapi, saya memiliki pemikiran yang mendasari pemilihan saya untuk langkah turnaround tersebut yang akan saya terjemahkan melalui kerangka 7’s McKinsey.

Salah bila dikatakan sebuah organisasi hanyalah struktur semata. Sebuah organisasi dalam system widenya juga merupakan sebuah “living form” yang mengandung 7 elemen unik seperti tertera pada gambar 1. Model 7 S ini sering menjadi alat diagnostik untuk keefektivitasan sebuah organisasi dalam prakteknya.

Perusahaan yang sehat pada mulanya memiliki keseimbangan pada 7 unsur S tersebut. Dan jika satu elemen berubah, maka akan berdampak kepada 6 elemen lainnya. Sebagai contoh. Perubahan di HR system untuk internal career plan atau management training (Staff) akan memberi dampak terhadap kultur management (Style) yang juga akan berdampak terhadap structure, process (system), dan akhirnya pada karakteristik kompetensi (Skill, Shared Value & Strategy) dari organisasi itu sendiri.

Namun sayangnya, praktek yang sering terjadi dalam proses turnaround, management cenderung lebih berfokus pada sisi tangible S, (Strategy, Structure, dan System) semenjak memang itu yang bisa terlihat dan terasa perubahannya didepan. Akan tetapi, banyak benchmark yang memperlihatkan bahwa turnaround yang sukses dan berkesinambungan seperti Voksel, United Tractor, ProXL, Garuda, dan Mandiri, mereka memfokuskan terlebih dahulu kepada sisi intangible S (Shared Value, Skill, Staff & Style). Intangible S inilah yang sudah terbukti mampu membuat suatu gebrakan yang sukses dalam proses turnaround sebelum dimulainya langkah strategis peningkatan revenue maupun efisiensi operasi. Logikanya struktur baru atau strategi terbaik sekalipun akan sulit dibangun diatas cultur dan value yang tidak menunjang. Permasalahan terbesar dalam change management adalah lack of synergies karena adanya clash di sisi cultur, value maupun Style yang menyebabkan sulitnya membangun suatu common ground di sisi sistem maupun stuktur. If we dig deep enough to the problem, we will find the people.

Transformasi Bisnis berarti Lini produk baru.

Proses turnaround dalam kelanjutannya tidaklah hanya memotong biaya dan pengukuran sederhana saja. Pertumbuhan memerlukan waktu, sedangkan efisiensi biaya dapat langsung dilakukan. Sebuah transformasi memerlukan sebuah produk baru dengan citra baru dan tentu invesasi baru yang merupakan suatu elemen kritis untuk membuat proses transformasi ini bukan hanya menjadi cost saving plan semata, tapi juga langkah untuk menuju pertumbuhan yang sustainable bagi PSN dan MSS khususnya.

Mengapa sebuah hit produk perlu saya katakan? Memiliki produk baru dengan pemilihan segment yang profitable serta time to market yang cepat adalah critical success factor. PSN adalah sebuah service provider telekomunikasi, dan service provider sudah seharusnya berbicara tentang bagaimana “Asiknya” bertelekomunikasi. Tidak perlu kita stay di satu teknologi saja, as long as the cat brings the money, it doesnt matter whether its black or white. Selain itu, sudah banyak saya dengar yang berbicara tentang brand, dan jarang saya melihat ada perubahan. Karena bagi marketer untuk dapat berhasil, ada 3 persyaratan yang harus dipenuhi, 1. Kita tahu apa yang diinginkan pasar, 2. Kita memiliki produknya, dan 3. Komunikasi yang jelas semenjak ini berhubungan dengan product benefit. Jadi tidak hanya bicara diversity, tapi kita tunjukkan diversity itu sekarang. Pemilihan global strategi apakah kita cost leadership atau differentiator harus jelas, berdiri diantara keduannya, hanya akan menyebabkan stuck in the middle. Kita akan tunjukkan ke pasar bahwa PSN akan memiliki saleable qualities yang berbicara dengan sendirinya! Saya ingin, di akhir proses, pelanggan kita tidak hanya mengerti apa itu brand, tapi juga menjadi saksi perubahan kita, inilah new PSN. Itulah mengapa saya tekankan sekali lagi untuk membangun intangble S. Mencoba obat yang berbeda. Intangible S lah yang akan sangat mempengaruhi business prosses di sebuah perusahaan, termasuk juga level creativitas yang akan menghasilkan new hit produk ini. Produk yang berbicara dengan sendirinya, dan membangun sebuah profitable brand yang dihasilkan dari value dan loyalti pelanggan terhadap PSN. Tidak lagi kita berfikiran bahwa market share itu lebih penting. Antara market share dan bottom line pada prakteknya selalu ada trade off. Tapi bila kita membangun market presence yang kuat, market share akan mengikuti dengan sendirinya. We’ll do everything completly different now.

Komunikasi Media menjadi Penting

Mengapa saya insist untuk menempatkan profit nomor satu disaat kita ingin mengembangkan pasar? Pertama, Karena pemberitaan media akan hit product/service dapat mengembalikan citra PSN yang selama ini mulai padam akibat berita-berita tentang kondisi financial PSN maupun problem-problemnya dimasa lalu. Jadi, tantangan strategi komunikasinya adalah untuk mengalihkan perhatian dengan cepat, dengan sebuah keberhasilan! Strategi ini berguna untuk membangun kredibilitas PSN dimata kreditur melalui profitability dan lini produk baru. Karena angka akan bicara lebih keras dari apapun dalih managemen. Kedua, sekaligus sebagai turning point bagi citra brand kita dimata potential customer. Dan kapasitas dari sebuah brand atau produk untuk dapat menarik pelanggan potensial secara profitable adalah yang membedakan antara Good produk dengan Hit produk.

Perubahan perlu Pengukuran

Perubahan tanpa pengukuran sama saja kita berjalan dihutan tanpa tahu akan muncul dimana. Proses turnaround membutuhkan suatu disiplin budget yang berlandaskan pada prinsip umum Economic Value Added yang dijalankan sebagai management control system untuk memantau apakah kita masih on track atau tidak dari tujuan. Prinsip Economic Value Added, atau EVA secara sederhananya adalah mengkaitkan analisa Return on Investment terhadap level Cost of Capital perusahaan. Selain EVA, saya juga mengusulkan adanya pengukuran rutin untuk sebuah early warning signal, yaitu Altzman Z score, sebagai pelengkap EVA. Element ROI itu sendiri saja sudah sangat powerfull dalam prakteknya sebagai alat kontrol keuangan perusahaan. Karena ROI itu sendiri mengandung 3 element penting yaitu : Revenue enhancement, Cost Management, dan investment outlay, 3 elemen kritikal dalam turnaround yang telah saya kemukakan. Bila disandingkan dengan cost of capital jadilah sebuah alat kontrol & pengukuran management yang tangguh. Seperti kata pepatah, “cut once, measure twice”.

Catatan Kecil

Rancangan turnaround PSN didisain secara utama untuk mengembalikan profitabilty dan growth yang telah surut selama beberapa priode. Namun disain ini memerlukan adanya suatu komitmen dari managemen dan mayoritas pemegang saham. Sayangnya, kebanyakan pemegang saham sulit untuk diajak turut andil apalagi kalau sudah menyangkut equity call. Dari sisi seorang bankir sekalipun bila melihat kondisi keuangan PSN yang sudah negatif, hanya ada 2 jalan keluar, modal baru atau likuidasi. Bila tidak ada komitmen dari pemegang saham, sulit bagi PSN untuk stay on map. Karena para bankir pun tahu hal ini tidak akan memberikan perusahaan sebuah keunggulan yang signifikan terhadap kompetitornya bila tetap bermasalah di sisi keuangan. Dan perubahan itu butuh uang. Maka itu, tanpa komitment dari pemegang saham, akan sulit melakukan turnaround. Dari sisi level operasional, sudah waktunya untuk membuktikan kembali kapabilitas kita sebagai karyawan. Perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang profitable, dan perusahaan yang profitable akan mampu membuka lapangan kerja baru. Maka dari itu, dalam kondisi ini perusahaan harus beroperasi seprofitable mungkin dijangka pendeknya. Perlu diingat, company never provide us job security, only customers do! Saya yakin, jawabannya ada pada internal PSN sendiri, karena kita lebih mengerti perusahaan ini lebih baik dari konsultan sekalipun!

Dalam melakukan turnaround stage, setidaknya perlu dibentuk 2 tim dalam management, satu adalah yang menangani regular business, dan yang satu lagi tim yang khusus menangai turnaround. Bila tidak, maka tidak jalan kedua-duanya.

Layaknya seorang paramedik, keahlian terbaik dari tim specialist itu nantinya adalah pada kemampuannya membuka tabir informasi yang terkadang tersimpan erat ditubuh perusahaan dengan berkomunikasi secara efektif dan simpatik dengan setiap orang diperusahaan, kemudian membuat keputusan yang kritikal dan cepat untuk menyelamatkan nasib perusahaan dengan metode perawatan terbaik. Tim turnaround specialist terdiri dari orang-orang yang tidak hanya memiliki keahlian spesifik sebatas teknologi semata, tapi juga harus memiliki keahlian dan pengalaman yang luas dalam menangani situasi, teknologi, product, pasar dan karyawan dimasa kritis dan terbebas dari agenda-agenda lain maupun office politic.

Beroperasi di dalam badai dan ketidakpastian serta situasi zero error tolerance, tim turnaround harus dapat merestruktur ratusan mindset karyawan dan menghandle skeptimisme dalam kesehariannya, berhadapan dengan supplier dan kreditur yang marah, deadline yang ketat serta tuntutan BOD. Tim Specialist tersebut harus mampu mengangkat solusi dari lautan inkonsistensi informasi dan datang dengan keahlian koheren atas market, customer, sumber daya, personel dan strategi terstruktur untuk memperbaiki kondisi dan masa depan perusahaan.

Dengan begitu berat dan beresikonya tugas yang dimiliki, jelas ini bukanlah tugas untuk yang memiliki jantung lemah.@

h1

Hello world!

September 20, 2006

Welcome to My Blog. This Hopefully My long lasting blog than other.. hehehhe..